• Kota Sampit, Kotawaringin Timur (Kotim), menghadapi ancaman kabut asap akibat 482 titik panas yang terdeteksi dalam 24 jam terakhir per Senin (5/10/2026) sore, menurut data BMKG dan BPBD Kotim.
• Konsentrasi titik panas tertinggi berada di Kecamatan Pulau Hanaut (189 titik), Seranau (128 titik), dan Teluk Sampit (25 titik). Kelurahan Mentaya Seberang di Seranau, yang berhadapan dengan pusat kota Sampit, mencatat 101 titik panas.
• Koordinator Lapangan Satgas Penanganan Karhutla Kotim, Rihel, menyatakan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di Kotim fluktuatif, pernah mencapai nilai lebih dari 1.000 dan menyebabkan jarak pandang turun drastis hingga 10-20 meter.
• Asap yang menyelimuti Sampit berasal dari berbagai lokasi di sekitar Kotim dan dapat menetap di kota ketika kecepatan angin rendah, menyebabkan kualitas udara memburuk.
SAMPIT, Kanalindependen.id – Kota Sampit kembali berhadapan dengan ancaman kabut asap. Ratusan titik panas terdeteksi di wilayah Kotawaringin Timur (Kotim), termasuk di kawasan seberang Sungai Mentaya yang berhadapan langsung dengan pusat kota.
Data rekapitulasi BMKG dan BPBD Kotim per Senin (5/10/2026) sore mencatat 482 titik panas dalam 24 jam terakhir.
Konsentrasi terbesar berada di Kecamatan Pulau Hanaut dengan 189 titik. Kecamatan Seranau menyusul dengan 128 titik, sedangkan Kecamatan Teluk Sampit tercatat 25 titik panas.
Di Kecamatan Seranau, Kelurahan Mentaya Seberang mencatat 101 titik panas. Lokasinya berada tepat di seberang kawasan perkotaan Sampit dan dipisahkan oleh Sungai Mentaya.
Sebaran titik panas tersebut menjadi salah satu sumber asap yang dapat masuk ke Sampit. Pergerakannya bergantung pada arah dan kecepatan angin.
Koordinator Lapangan Satgas Penanganan Karhutla Kotim, Rihel, mengatakan kondisi Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di Kotim masih berubah dalam waktu singkat.
“ISPU itu masih fluktuatif. Dalam hitungan jam saja nilainya bisa naik dan bisa turun,” kata Rihel, Senin (5/10/2026).
Menurut Rihel, asap yang menyelimuti Sampit tidak hanya berasal dari kebakaran di sekitar kawasan kota. Asap dari Seranau, Pulau Hanaut, dan Teluk Sampit juga dapat terbawa menuju pusat perkotaan.
Kondisi menjadi lebih buruk ketika angin melemah. Asap yang sudah mencapai kota tidak segera bergerak keluar dan kemudian bertahan di kawasan permukiman.
“Setelah asap sampai ke kota, ketika kecepatan angin rendah atau tidak ada angin, akhirnya menetap di kota. Itu yang membuat asap semakin tebal dan ISPU naik, bahkan sampai 1.000 lebih,” ujarnya.
Dampaknya terlihat pada jarak pandang. Rihel menyebut jarak pandang di Sampit beberapa kali turun drastis ketika konsentrasi asap meningkat. Dalam kondisi terburuk, jarak pandang hanya sekitar 10–20 meter.
Nilai ISPU sempat turun dari kondisi ekstrem ke kisaran 300–400. Namun, angka tersebut masih jauh dari kondisi udara yang ideal.
“Sebenarnya yang aman ISPU di bawah 50. Yang paling parah pernah di atas 1.000, biasanya sekitar 400, 300,” kata Rihel.
Kondisi ini membuat kualitas udara Sampit sangat bergantung pada perkembangan kebakaran di wilayah sekitar dan perubahan pola angin.
Mentaya Seberang menjadi salah satu titik yang perlu diperhatikan. Wilayah tersebut berada sangat dekat dengan pusat Kota Sampit dan mencatat 101 titik panas dalam data 24 jam terakhir.
Ketika asap bergerak menuju kota sementara angin melemah, asap dapat bertahan lebih lama di kawasan perkotaan.
Dengan ratusan titik panas masih terdeteksi di Kotim, ancaman asap bagi Sampit belum berakhir. Perubahan arah angin dalam beberapa jam ke depan akan ikut menentukan apakah asap bergerak menjauh atau kembali menumpuk di atas kota. (***)