Intinya sih...

• Seekor buaya terlihat menyantap mangsanya di Sungai Mentaya, Desa Pelangsian, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Sampit, pada Sabtu sore (21/2/2026), memicu kembali kekhawatiran warga yang bergantung pada sungai tersebut.
• Kemunculan buaya ini bukan yang pertama; Sungai Mentaya telah menjadi lokasi puluhan konflik buaya-manusia di Kotawaringin Timur, dengan lebih dari 50 insiden tercatat sepanjang 2010–2025, termasuk kasus luka dan meninggal dunia.
• Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Resort Sampit, Muriansyah, mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan mengurangi aktivitas di Sungai Mentaya, khususnya di titik kemunculan buaya.
• Muriansyah menjelaskan bahwa kemunculan buaya di dekat permukiman umumnya disebabkan oleh ketersediaan makanan, seperti bangkai hewan, sampah rumah tangga, atau ternak yang dipelihara di bantaran sungai.
• BKSDA mengingatkan pentingnya peran warga dalam menjaga lingkungan sungai dengan tidak membuang bangkai atau sampah ke aliran air, tidak memelihara ternak di bantaran sungai, dan segera melapor jika melihat buaya.

SAMPIT, Kanalindependen.id – Sungai Mentaya sore itu tampak seperti biasa. Air mengalir pelan di tepian Desa Pelangsian, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang. Beberapa warga masih beraktivitas, sebagian lainnya sekadar duduk di lanting. Hingga seekor buaya muncul ke permukaan dan memperlihatkan sesuatu yang membuat jantung berdegup lebih cepat.

Dalam rekaman video warga yang beredar luas, Sabtu sore (21/2/2026), buaya tersebut terlihat sedang menyantap mangsanya. Tubuhnya mengapung sesaat, rahangnya bekerja, lalu perlahan menghilang kembali ke dalam sungai.

“Nah tenggelam, susah selesai buayanya makan ayam,” ucap seorang perempuan dalam video itu, suaranya terdengar tegang.

Bagi warga Pelangsian, pemandangan itu bukan sekadar tontonan. Sungai Mentaya masih menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari tempat mandi, mencuci, memancing, hingga jalur aktivitas warga. Karena itu, kemunculan buaya yang terekam jelas sedang makan memunculkan kembali rasa waswas.

Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Sungai yang sama telah berulang kali menjadi lokasi kemunculan buaya, bahkan konflik antara manusia dan satwa liar. Video sore itu seperti pengingat bahwa ancaman tersebut belum benar-benar pergi.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Resort Sampit Muriansyah, mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan. Untuk sementara, warga diminta mengurangi aktivitas di Sungai Mentaya, terutama di sekitar lokasi kemunculan buaya.

“Kami minta masyarakat berhati-hati saat beraktivitas di sungai, khususnya di titik-titik yang sering muncul buaya,” ujarnya.

Menurut Muriansyah, kemunculan buaya di sekitar permukiman umumnya dipicu oleh ketersediaan makanan. Bangkai hewan, sampah rumah tangga yang dibuang ke sungai, serta ternak yang dipelihara di bantaran sungai membuat buaya terbiasa mendekat.

“Kalau sungai menjadi sumber makanan, buaya akan terus kembali. Lama-kelamaan mereka menganggap area itu sebagai wilayah aman,” jelasnya.

Kekhawatiran warga Pelangsian juga bukan tanpa dasar. Data kejadian konflik buaya–manusia di Kotawaringin Timur sepanjang 2010–2025 mencatat lebih dari 50 insiden, dengan Sungai Mentaya menjadi lokasi yang paling sering muncul. Korban bukan hanya luka-luka, tetapi juga meninggal dunia. Aktivitas korban pun beragam mulai dari mandi, mencuci, memancing, hingga beraktivitas di lanting.

Artinya, kemunculan buaya yang terekam kamera sore itu bukan peristiwa tunggal, melainkan bagian dari pola panjang konflik manusia dan satwa liar di sungai yang sama.

Karena itu, BKSDA kembali mengingatkan pentingnya peran warga dalam menjaga sungai. Tidak membuang bangkai atau sampah ke aliran air, tidak memelihara ternak di bantaran sungai, serta segera melapor jika melihat buaya muncul ke permukaan.

“Kami berharap masyarakat ikut menjaga lingkungan sungai. Pencegahan hanya bisa berjalan kalau ada kesadaran bersama,” tegas Muriansyah.

Sore telah berlalu, buaya kembali tenggelam. Namun bagi warga Pelangsian, rasa cemas belum sepenuhnya surut. Sungai yang selama ini menjadi sumber hidup kini kembali mengingatkan: ada bahaya yang mengintai, tepat di bawah permukaan air yang tampak tenang. (***)