- 93 organisasi masyarakat di Kalimantan Tengah menggelar Musyawarah Besar (Mubes) I Forum Kebangsaan di Hotel Aurila Palangka Raya pada Minggu (6/9/2026).
- Mubes ini bertujuan untuk mencegah potensi konflik dan gesekan kepentingan sektoral antar-elemen masyarakat, serta merawat kedamaian di Kalimantan Tengah.
- Dalam Mubes tersebut, Yanto E. Saputra terpilih dan mendapat mandat sebagai Koordinator Forum Kebangsaan.
- Ketua Dewan Pengarah, Brigjen Pol (Purn) Andreas Wayan Wicaksono, menjelaskan bahwa forum ini dibentuk dari akar rumput dengan menjunjung nilai Huma Betang sebagai perekat keberagaman dan menghindari struktur hierarki kaku.
- Forum Kebangsaan diharapkan menjadi wadah kolaborasi strategis antara masyarakat dan pemangku kebijakan, serta mitra kritis bagi pemerintah daerah.
PALANGKA RAYA, kanalindependen.id – Gesekan kepentingan sektoral dan potensi konflik akar rumput menjadi bayang-bayang yang melatarbelakangi lahirnya konsolidasi 93 organisasi masyarakat di Kalimantan Tengah.
Guna memutus celah letupan tersebut, elemen-elemen ini menggelar Musyawarah Besar (Mubes) I Forum Kebangsaan di Hotel Aurila Palangka Raya, Minggu (6/9/2026), yang berujung pada mandat bagi Yanto E. Saputra sebagai Koordinator terpilih.
Mencegah Letupan Ego Sektoral
Wadah ini lahir dari inisiatif akar rumput. Ketua Dewan Pengarah, Brigjen Pol (Purn) Andreas Wayan Wicaksono, membedah alasan utama pendirian forum tersebut.
Kesadaran kolektif untuk merawat kedamaian menjadi landasannya. Konsolidasi ini didesain guna mencegah gesekan antar-elemen yang rawan tersulut ego sektoral maupun ragam kepentingan.
”Kita punya latar belakang sejarah yang mengajarkan bahwa konflik dan kerusuhan hanya membawa kerugian bagi semua pihak. Forum ini kita bangun dari bawah (bottom-up), dari akar rumput secara mandiri, layaknya pohon yang tumbuh kuat dari akarnya agar bisa menjadi tempat berteduh yang aman bagi siapa saja,” tegas Andreas saat membuka acara.
Memosisikan suku Dayak sebagai tuan rumah, Andreas menilai nilai-nilai luhur Huma Betang mampu menjadi perekat keberagaman etnis dan paguyuban.
Pendekatan kultural ini turut menentukan sistem kepemimpinan forum yang menghindari model hierarki kaku.
”Di forum ini tidak ada istilah ‘ketua di atas ketua’. Yang kita pilih adalah seorang Koordinator, di mana fungsinya adalah merangkul dan mengoordinasikan seluruh pengurus serta ormas untuk merumuskan kegiatan yang mendukung kebijakan pemerintah, menjaga ketertiban, dan mengawal keamanan,” jelasnya.
Transisi Cepat, Mandat Baru
Proses menemukan figur koordinator baru bergulir pasca-berpulangnya koordinator sebelumnya, almarhum Adi Abdian Noor.
Ketua Panitia Mubes, Tomu Sibarani, menyebut pergerakan panitia dilakukan sesuai kesepakatan dewan pembina dan pengurus demi menjaga keberlanjutan organisasi.
”Panitia bekerja dengan cepat, tepat, dan terus berkoordinasi dengan seluruh elemen, baik dari unsur pemerintah, masyarakat, maupun akademisi. Dari data yang ada, terdapat 93 ormas yang memiliki hak suara dan dapat melakukan pemungutan suara (voting) apabila diperlukan dalam dinamika Mubes nantinya,” ujar Tomu Sibarani.
Membawa slogan “Bersatu, Damai, dan Bermanfaat”, Tomu memproyeksikan forum kebangsaan sebagai ruang kolaborasi strategis antara masyarakat dan pemangku kebijakan.
”Ormas adalah mitra kritis dari pemerintah daerah. Kami berharap melalui forum ini, narasi akademis dan tata kelola administratif organisasi semakin diperkuat,” imbuh Tomu.
Kini, mandat kepemimpinan beralih ke tangan Yanto E. Saputra. Bersama tim formatur, koordinator terpilih ini memikul tanggung jawab merumuskan langkah strategis dan menyusun Peraturan Forum sebagai haluan organisasi.
Dukungan terhadap mandat kepemimpinan ini langsung mengalir pasca-pemilihan. Ketua Kesatuan Masyarakat Hukum Adat (KMHA) Dayak Kalimantan Tengah Erko Mojra turut memberikan pernyataan resmi menyambut hasil musyawarah tersebut.
”Selamat dan sukses kepada Yanto Eko yang terpilih sebagai Koordinator Forum Kebangsaan Ormas Kalteng pada Musyawarah Besar Forum Kebangsaan Ormas, Paguyuban dan Kerukunan Kalimantan Tengah yang menaungi atau sebagai tempat berhimpunnya 90 (sembilan puluh) Ormas, Paguyuban dan Kerukunan Se Kalimantan Tengah,” ucap Erko.
Seperti pesan Andreas sebelum sidang ditutup, seluruh elemen didorong menekan kepentingan pribadi demi menjaga harmoni kolektif. (ign)