• Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalap sekitar 10 hektare semak belukar dan hutan di Desa Bagendang Hilir, Kecamatan Mentaya Hilir Utara, Kotawaringin Timur pada Rabu, 7 Oktober 2026.
• Titik api berkobar sangat dekat dengan area permukiman padat warga serta jalur jalan raya utama Sampit–Samuda.
• Pos Damkar Sektor Samuda merespons laporan darurat dan mulai melakukan pemadaman sekitar pukul 13.40 WIB, dengan operasi pendinginan berlangsung hingga pukul 15.30 WIB.
• Pemadaman ini mendapat dukungan dari personel BPBD Kotim, Yon TP, PT Simon, serta Masyarakat Peduli Api (MPA) Kecamatan.
• Petugas memastikan tidak ada korban jiwa maupun luka-luka dalam kejadian tersebut.
• Penyebab pasti kebakaran 10 hektare lahan di Bagendang Hilir itu masih dalam proses penyelidikan pihak berwenang.
SAMPIT, Kanalindependen.id – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali mengancam keselamatan dan ruang hidup warga di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Kobaran api hebat melalap sekitar 10 hektare semak belukar dan hutan di Desa Bagendang Hilir, Kecamatan Mentaya Hilir Utara (MHU), Rabu (7/10/2026).
Ancaman kali ini kian krusial karena titik api berkobar sangat dekat dengan area permukiman padat warga serta jalur lintasan jalan raya utama Sampit–Samuda.
Merespons laporan darurat warga, armada Pos Damkar Sektor Samuda langsung meluncur ke lokasi kejadian sekitar pukul 13.05 WIB. Menempuh jarak sekitar 13 kilometer, tim tiba di lokasi pukul 13.36 WIB dan langsung melakukan isolasi serta penyiraman api sekitar pukul 13.40 WIB.
Operasi pemadaman dan pendinginan (cooling down) berlangsung marathon hingga pukul 15.30 WIB di bawah cuaca terik cerah.
Empat personel Pos Damkar Sektor Samuda dikerahkan menggunakan armada unit MTPK 12, yang dipimpin langsung oleh Kepala Pos (Kapos) Supianor.
“Operasi pemadaman dan pendinginan dilakukan secara terpadu di area hutan serta semak belukar yang terbakar. Penanganan di lapangan mendapat dukungan penuh dari personel BPBD Kotim, Yon TP, PT Simon, serta jajaran Masyarakat Peduli Api (MPA) Kecamatan,” terang Kapos Damkar Sektor Samuda, Supianor, Rabu (7/10/2026).
Hingga operasi penanganan dinyatakan selesai, petugas memastikan tidak ada korban jiwa maupun luka-luka. Sementara itu, penyebab pasti pemicu kebakaran 10 hektare lahan di Bagendang Hilir tersebut masih dalam proses penyelidikan pihak berwenang.
Amukan api yang melahap 10 hektare lahan di Bagendang Hilir menjadi alarm keras bahaya laten karhutla yang merangsek ke zona pemukiman warga (wildland-urban interface). Ketika titik api berada sangat dekat dengan rumah dan jalur transportasi utama, risiko ancaman tidak hanya berupa bahaya ISPU, melainkan potensi perambatan api melalap bangunan fisik dan melumpuhkan mobilitas publik.
Pemkab Kotim melalui BPBD dan Camat MHU didesak untuk tidak hanya mengandalkan pemadaman reaktif. Harus ada pembuatan sekat bakar basah atau kanalisasi di sekitar benteng semak Bagendang Hilir guna memutus perambatan api ke rumah warga.
Polres Kotim dan instansi terkait dituntut mengusut tuntas penyebab munculnya titik api di pinggir jalan raya ini. Apakah terdapat unsur kelalaian pembakaran sampah/lahan (land clearing) yang disengaja oleh oknum tidak bertanggung jawab di tengah kemarau ekstrem. (***)