• Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis data per Sabtu (29/8/2026) pukul 16.00 WIB, mendeteksi sebanyak 1.249 titik panas (hotspot) di Kabupaten Kotawaringin Timur dalam 24 jam terakhir.
• Dari total tersebut, 76 titik panas memiliki tingkat kepercayaan tinggi (80%), menandakan potensi kejadian kebakaran sangat krusial, dan 1.141 titik berkategori kepercayaan menengah.
• Sebagian besar titik panas terkonsentrasi di wilayah selatan dan koridor gambut, dengan Mentaya Hilir Selatan (280 titik) dan Mentawa Baru Ketapang (251 titik) mencatatkan jumlah tertinggi.
• Peningkatan titik panas ini menjadi sinyal merah atas risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta ancaman penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) bagi warga.
• Langkah mitigasi cepat berupa patroli terpadu dan pembasahan di area dengan tingkat kepercayaan tinggi sangat mendesak untuk dilakukan guna mencegah perluasan karhutla di Kotawaringin Timur.
KanalIndependen.id — Sampit. Bayang-bayang krisis udara bersih terus mengintai Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Berdasarkan data rekapitulasi satelit Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang dirilis BPBD Kotim pada Sabtu (29/8/2026) pukul 16.00 WIB, terdeteksi sebanyak 1.249 titik panas (hotspot) yang tersebar di berbagai wilayah kecamatan hanya dalam waktu 24 jam terakhir.
“Angka ini menjadi sinyal merah atas meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan serta ancaman penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA),” ungkap Kepala BMKG Stasiun Meterorologi H Asan Kotim Mulyono Leo Nardo
Dari total 1.249 titik panas tersebut, BMKG mencatat tingkat kepercayaan menengah (30-79 persen ) mendominasi dengan 1.141 titik, sementara 76 titik berada pada tingkat kepercayaan tinggi (80 persen) yang menandakan potensi kejadian kebakaran sangat krusial di lapangan.
Sebagian besar akumulasi titik panas terkonsentrasi di wilayah selatan dan kawasan koridor gambut.
Secara rinci, Kecamatan Mentaya Hilir Selatan mencatatkan angka tertinggi dengan 280 titik (termasuk 38 titik tingkat tinggi), disusul oleh Mentawa Baru Ketapang dengan 251 titik (8 titik tinggi), Mentaya Hilir Utara sebanyak 202 titik (10 titik tinggi), Telawang dengan 144 titik (7 titik tinggi), serta Baamang sebanyak 94 titik (2 titik tinggi). Kawasan seperti Bangkuang Makmur di Mentawa Baru Ketapang serta Bagendang Tengah di Mentaya Hilir Selatan menjadi wilayah yang paling padat sebarannya.
Tingginya konsentrasi titik panas ini meningkatkan kekhawatiran warga akan kembalinya kabut asap pekat. Partikel halus hasil pembakaran gambut berisiko tinggi memicu lonjakan kasus ISPA, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.
Langkah mitigasi cepat berupa patroli terpadu serta pembasahan di area high confidence sangat mendesak untuk dilakukan guna mencegah perluasan karhutla di Kabupaten Kotawaringin Timur. (***)