• Sungai Mentaya di Desa Tanjung Bantur, Kotawaringin Timur, mengalami penyurutan drastis yang telah berlangsung lebih dari dua bulan.
• Kondisi surut ini memunculkan "gosong" atau hamparan pasir landai di tepian sungai, yang dimanfaatkan warga sebagai ruang bermain baru bagi anak-anak dan tempat bersantai.
• Fenomena penyurutan serupa juga terjadi di wilayah hulu (Desa Pendadurian) dan hilir (Desa Kawan Batu).
• Meskipun permukaan air turun, transportasi kelotok dan perahu ces masih dapat melintas karena terdapat bagian sungai yang cukup dalam.
• Kebutuhan air bersih warga Tanjung Bantur tetap aman karena mengandalkan sumur galian dan sumur bor.
• Warga berharap hujan segera turun agar permukaan Sungai Mentaya kembali normal.
SAMPIT, Kanalindependen.id – Pemandangan berbeda terlihat di tepian Sungai Mentaya, Desa Tanjung Bantur, Kecamatan Mentaya Hulu, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).
Permukaan air sungai yang surut cukup jauh membuka hamparan pasir landai di sepanjang tepian. Warga menyebut bagian yang muncul tersebut sebagai gosong, atau endapan dasar sungai yang biasanya tertutup air.
Hamparan pasir itu kemudian menjadi ruang terbuka bagi warga. Anak-anak terlihat berlarian, bermain hingga berenang di bagian sungai yang masih menyisakan air.
Warga dewasa juga memanfaatkan momen tersebut untuk menikmati suasana dan mengabadikannya menggunakan kamera ponsel.
Di antara hamparan pasir, sejumlah kelotok terlihat bersandar. Rumah-rumah kayu warga berdiri di atas tiang tinggi di sepanjang tepian Sungai Mentaya.
Menjelang sore, cahaya matahari berwarna jingga menyinari permukaan pasir dan aliran sungai yang tersisa. Dari kejauhan, tepian sungai itu sekilas menyerupai pantai yang muncul di tengah permukiman.
Namun, pemandangan tersebut merupakan dampak dari surutnya Sungai Mentaya.
Sulaiman, warga Desa Tanjung Bantur, mengatakan kondisi sungai yang surut telah berlangsung lebih dari dua bulan.
“Sudah lebih dari dua bulan surut,” kata Sulaiman, Sabtu (29/8/2026)
Menurutnya, kondisi serupa juga terjadi di wilayah sekitar Tanjung Bantur. Di bagian hulu, Desa Pendadurian mengalami kondisi sungai yang surut. Begitu pula Desa Kawan Batu yang berada di bagian hilir.
“Dua desa itu juga surut,” ujarnya.
Meski permukaan air turun, aktivitas transportasi warga masih berjalan. Kelotok dan perahu ces tetap dapat melintas karena masih terdapat bagian sungai yang cukup dalam.
“Pantai yang ada di sungai sebenarnya adalah gosong atau endapan dasar sungai. Perahu masih bisa lewat di sisi lainnya,” jelas Sulaiman.
Surutnya Sungai Mentaya juga belum mengganggu kebutuhan air bersih warga Tanjung Bantur. Sebagian warga masih mengandalkan sumur galian dan sebagian lainnya menggunakan sumur bor.
“Masih aman, ada yang sumur galian, ada juga yang sumur bor,” katanya.
Di tengah kondisi kemarau, warga Tanjung Bantur juga bersyukur wilayah mereka sejauh ini masih terhindar dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) seperti yang terjadi di sejumlah wilayah lain di Kotim.
Bagi warga, munculnya hamparan pasir memberikan wajah berbeda pada tepian Sungai Mentaya. Anak-anak mendapatkan ruang bermain baru. Warga pun memiliki pemandangan yang jarang terlihat ketika permukaan sungai berada pada kondisi normal.
Namun, perubahan tersebut juga menjadi penanda bahwa debit Sungai Mentaya sedang menurun.
Warga berharap hujan segera turun. Mereka ingin permukaan Sungai Mentaya kembali normal dan aktivitas di sepanjang sungai kembali seperti semula. (***)