Kepercayaan yang Ternoda

Kisah DK dan MG hanyalah dua dari sekian banyak suara petugas lapangan yang kini merasa dikhianati sistem yang mereka bantu perjuangkan.

Di tangan mereka, demokrasi di tingkat paling bawah berdiri tegak. Akan tetapi, di tangan segelintir orang di atasnya, idealisme itu tampak rapuh oleh godaan uang.

DK menilai kasus itu berpotensi merusak kepercayaan petugas pemilu terhadap penyelenggara, khususnya komisioner yang sebelumnya dianggap sebagai panutan.

Dampaknya, tidak sedikit petugas yang kini ragu untuk kembali terlibat dalam pemilu atau pilkada mendatang.

”Risikonya besar, honornya tidak sebanding, sekarang ditambah kepercayaan yang rusak,” katanya.

DK mendukung sepenuhnya langkah aparat penegak hukum yang mengusut tuntas dugaan korupsi dana hibah Pilkada di KPU Kotim secara transparan dan menyeluruh.

”Harus jelas siapa yang bermain dan sebut saja namanya. Jangan sampai petugas di bawah dijadikan korban atau kambing hitam,” ujarnya.

Ia juga menitipkan pesan kepada para pengelola dana pilkada dan pejabat yang kini tengah diperiksa.

”Jujurlah. Jangan memanipulasi dan jangan melibatkan KPPS serta petugas di bawah. Kami sudah bekerja habis-habisan demi pilkada,” katanya.

Pun demikian dengan MG. Dia berharap ada perbaikan serius dalam tata kelola penyelenggaraan pemilu. Terutama dalam seleksi pejabat KPU dan pengelolaan anggaran.

”Harapannya, pejabat KPU benar-benar orang jujur dan bersih. Jangan jadi wadah titipan orang-orang penting,” kata MG.

Menutup kesaksiannya, MG menyampaikan pesan kepada para pengelola dana pesta demokrasi dan pejabat yang kini tengah diperiksa penegak hukum.

”Kalau memang mereka salah, harus ditindak dan dipertanggungjawabkan secara hukum. Tapi jangan juga sampai ada pihak yang dijadikan korban atau dicari-cari kesalahannya,” tegasnya.