✨ Intinya sih...

• Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kotawaringin Timur (Kotim) mencatat nihilnya titik panas (hotspot) kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di seluruh wilayah pada Jumat, 6 November 2026.
• Kondisi ini disebabkan oleh guyuran hujan berintensitas ringan hingga sedang di Sampit dan sekitarnya, yang berhasil menaikkan kelembapan udara dan menurunkan suhu.
• Suhu udara anjlok dari 34°C menjadi sekitar 31°C, sementara kelembapan udara naik signifikan hingga mencapai 76 persen setelah hujan.
• Meski nihil hotspot, BMKG Stasiun Meteorologi H. Asan Sampit mengimbau masyarakat untuk tetap waspada, tidak melakukan pembakaran lahan, dan segera melapor jika menemukan indikasi kebakaran.
• Satgas Karhutla Kotim didesak memanfaatkan momentum hujan untuk melakukan pendinginan total bara gambut, dan Pemkab Kotim diminta tidak mengendurkan patroli darat.

SAMPIT, Kanalindependen.id  – Guyuran hujan yang mulai merata di Kota Sampit dan sekitarnya membawa angin segar bagi penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Berdasarkan data pemantauan satelit Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kotim, jumlah titik panas (hotspot) di seluruh wilayah Kotim tercatat nihil pada Jumat (6/11/2026).

Turunnya hujan intensitas ringan hingga sedang sejak siang hingga sore hari terbukti ampuh menaikkan kelembapan udara sekaligus menekan lonjakan suhu udara ekstrem yang melanda wilayah pesisir Kalteng belakangan ini.

Forecaster on Duty BMKG Stasiun Meteorologi H. Asan Sampit, Suci Priatin Ningsih, membeberkan dinamika perubahan cuaca mendasar yang tercatat dalam sistem pengamatan stasiun (SMQ/WAGS).

“Berdasarkan pemantauan BMKG pada Jumat, 6 November 2026, hotspot di wilayah Kotawaringin Timur terpantau nihil. Kondisi hujan yang terjadi di Sampit pada siang hingga sore hari turut meningkatkan kelembapan udara dan menurunkan suhu dibandingkan kondisi sebelumnya,” terang Suci Priatin Ningsih, Jumat (6/11/2026).

Suhu Anjlok dari 34°C ke 31°C, Kelembapan Udara Naik Hingga 76 Persen

Data pengamatan stasiun BMKG menunjukkan tren penurunan suhu udara yang cukup signifikan di wilayah Sampit. Pada pukul 13.00 WIB, kondisi udara masih kabur diselimuti asap tipis dengan suhu menyengat 34 derajat Celsius, kelembapan 55 persen, serta jarak pandang (visibility) terbatas 5 kilometer. Sejam kemudian, hujan ringan mulai mengguyur hingga suhu anjlok ke 31,8 derajat Celsius dan kelembapan naik menjadi 67 persen.

Curah hujan terus berlangsung hingga pukul 15.00 WIB dengan suhu bertengger di angka 31,2 derajat Celsius dan kelembapan udara mencapai puncaknya pada 76 persen. Memasuki pukul 16.00 WIB, hujan mulai menjauh dan jarak pandang membaik signifikan menjadi 7 kilometer dengan suhu 31,9 derajat Celsius serta kelembapan 62 persen.

BMKG Imbau Warga Tetap Waspada, Jangan Lakukan Pembakaran Lahan

Kendati hotspot berada pada angka nol, BMKG H. Asan Sampit menegaskan bahwa nihilnya titik panas dalam sehari tidak serta-merta menandakan ancaman Karhutla telah berakhir sepenuhnya. Bara api di lapisan gambut dalam masih bisa menyala kembali jika periode kering muncul mendadak.

“BMKG mengimbau masyarakat tidak melakukan pembakaran lahan dalam aktivitas pembukaan maupun pembersihan lahan. Jika menemukan indikasi kebakaran, segera laporkan kepada petugas agar dapat ditangani lebih awal,” tegas Suci.

Masyarakat Kota Sampit menyambut turunnya hujan dengan rasa syukur setelah berpekan-pekan dihadapkan pada cuaca terik dan ancaman kabut asap. Warga berharap curah hujan terus konsisten membasahi gambut Kotim hingga musim hujan benar-benar tiba.

Terdeteksinya nihil titik panas pada 6 November merupakan berkah sekaligus masa krusial (critical window) bagi Satgas Karhutla Kotim untuk melakukan pendinginan (cooling down) total. Hujan permukaan sering kali hanya membasahi vegetasi atas tanpa memadamkan bara gambut di kedalaman 1–2 meter.

Tim gabungan BPBD, Manggala Agni, TNI, dan Polri didesak memanfaatkan momentum guyuran hujan untuk menyuntikkan air bertekanan tinggi ke dalam pori-pori tanah gambut di Mentaya Hilir, Seranau, dan Baamang agar bara bawah tanah mati total. Selain itu, Pemkab Kotim dituntut tidak mengendurkan patroli darat meski langit Sampit mulai diguyur hujan, memastikan kesigapan Posko Pusdalops BPBD tetap berada pada siaga satu hingga ancaman krisis asap benar-benar berlalu secara menyeluruh.(***)