• Pemerintah daerah Sampit telah memasang dua unit lampu penerangan jalan umum (PJU) tenaga surya dan sejumlah papan peringatan di sekitar Jembatan Patah, Jalan Kapten Mulyono, Sampit.
• Menurut Plt Kepala UPTD Jalan, Jembatan dan Drainase Suhardiono, pemasangan lampu tenaga surya dilakukan pada Minggu lalu, sedangkan rambu imbauan telah dipasang sejak Rabu lalu hingga hari ini.
• Namun, warga sekitar menilai penanganan tersebut belum menyentuh inti persoalan karena kondisi fisik jembatan masih mengkhawatirkan, dengan baut-baut longgar dan suara decit saat kendaraan melintas.
• Warga juga meragukan efektivitas larangan kendaraan berat tanpa pengawasan dan penindakan, serta berharap adanya pembangunan jembatan permanen.
• Jembatan Patah ini telah mengalami kerusakan berulang yang diduga akibat tekanan kendaraan berat, bahkan pernah menyebabkan kecelakaan tunggal yang menelan korban jiwa.
SAMPIT, Kanalindependen.id – Upaya penanganan Jembatan Patah di Jalan Kapten Mulyono, Sampit, mulai terlihat di permukaan. Dua unit lampu penerangan jalan umum (PJU) tenaga surya kini berdiri di sisi utara dan selatan jembatan. Sejumlah papan peringatan juga dipasang, mencoba memberi sinyal bahaya bagi pengendara yang melintas.
Secara visual, kawasan itu memang berubah. Tidak lagi sepenuhnya gelap saat malam. Namun perubahan itu berhenti pada pencahayaan bukan pada persoalan utama.
Jangkauan lampu terbatas. Ia menerangi, tetapi tidak memperbaiki.
Di sisi utara, peringatan sudah dipasang sejak simpang Jalan Pelita. Larangan bagi truk bermuatan dan kendaraan angkutan CPO terpampang jelas. Mendekati jembatan, dua papan tambahan mengingatkan bahwa struktur di depan mereka bukan sekadar jalur biasa, melainkan titik rawan kecelakaan.
Pola serupa terlihat di sisi selatan, dimulai dari kawasan Jalan Kaca Piring I. Pesan bahaya disebar, seolah berharap kepatuhan akan datang dengan sendirinya.
“Untuk lampu solar cell dipasang hari Minggu kemarin dan rambu-rambu himbauan dipasang hari Rabu minggu kemarin, ada juga yang dipasang hari ini,” ujar Plt Kepala UPTD Jalan, Jembatan dan Drainase, Suhardiono, singkat.
Namun di lapangan, persepsi berbeda muncul.
Depi, warga sekitar, melihat apa yang dilakukan pemerintah daerah belum menyentuh inti persoalan. Menurutnya, kondisi fisik jembatan tetap mengkhawatirkan. Perawatan yang dilakukan belum mengubah banyak.
Ia menyebut baut-baut jembatan masih longgar suara decit terdengar setiap kali kendaraan melintas, menjadi alarm yang tidak pernah benar-benar padam.
“Ini membantu, tapi hanya sementara. Kami berharap ada pembangunan jembatan permanen agar lebih aman,” ujarnya.
Keraguan juga muncul pada efektivitas larangan kendaraan berat. Tanpa pengawasan dan penindakan, papan peringatan berisiko menjadi sekadar formalitas visual.
Di jalur dengan lalu lintas angkutan tinggi, terutama kendaraan bermuatan besar dan truk CPO, kepatuhan sering kali bergantung pada konsekuensi bukan imbauan.
Jembatan Patah sendiri bukan persoalan baru. Kerusakan berulang telah lama menjadi perhatian warga. Dugaan utama tetap sama: tekanan berlebih dari kendaraan berat yang terus melintas, meski pembatasan sudah diberlakukan.
Beberapa waktu lalu, kondisi jembatan ini bahkan berujung pada kecelakaan tunggal yang menelan korban jiwa. Insiden itu seharusnya menjadi titik balik.
Namun hingga kini, respons yang muncul masih berada di lapisan permukaan: penerangan, rambu, dan imbauan.
Sementara struktur yang menopang semuanya secara harfiah masih menyisakan tanda tanya. (***)