• Seorang pekerja bernama Ai (40) meninggal dunia akibat insiden ledakan dan kebakaran kapal tunda di area docking PT Nusantara Docking Sejahtera (NDS) Tanah Mas, Sampit, pada Sabtu (28/3/2026) sore dan dimakamkan pada Selasa (1/4/2026) dalam kondisi tidak utuh.
• Tragedi ini menyebabkan tiga korban: Ai terkonfirmasi meninggal, satu rekan kerja menderita luka parah di bagian kepala, dan satu pekerja lainnya masih dinyatakan hilang.
• Pada Selasa (31/3/2026), sesosok mayat tanpa identitas ditemukan di aliran Sungai Mentaya dan diduga berkaitan dengan insiden tersebut, namun masih menunggu hasil identifikasi forensik.
• Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas III Sampit memastikan penyelidikan pemicu kebakaran masih berjalan, dengan dugaan awal hantaman petir atau aktivitas pekerja berisiko tinggi di dekat muatan bahan bakar.
• Tim gabungan kepolisian telah menggelar olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) untuk menyelidiki insiden ini.
• Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kotawaringin Timur mendesak evaluasi menyeluruh terhadap standar keselamatan kerja, menuntut pertanggungjawaban perusahaan, dan transparansi prosedur keselamatan di area docking.
SAMPIT, kanalindependen.id – Liang lahat di pemakaman umum Kecamatan Kotabesi itu tak menerima jasad secara utuh.
Tangis keluarga pecah saat mengantarkan kepergian Ai (40), tulang punggung keluarga yang berpulang sebagai korban ledakan maut di area docking PT Nusantara Docking Sejahtera (NDS) Tanah Mas, Sampit, Rabu (1/4/2026) siang.
Kesaksian memilukan meluncur dari bibir Idi, warga setempat yang ikut hadir dalam prosesi pemakaman pilu tersebut.
Tragedi kebakaran kapal tunda pada akhir pekan lalu merenggut nyawa korban dengan cara yang sangat tragis.
”Fisiknya sudah tidak lengkap, hanya beberapa bagian saja yang bisa dimakamkan,” ucap Idi, menggambarkan pedihnya kondisi jenazah yang baru selesai diidentifikasi kepolisian.
Keseharian Ai lekat dengan peluh sebagai kru kapal tunda di dermaga Tanah Mas.
Kepergiannya yang mendadak meninggalkan seorang istri dan anak-anak yang terpaksa meneruskan hidup tanpa sosok ayah.
Otoritas kepolisian hingga kini belum merilis daftar resmi identitas para korban, sehingga publik hanya bisa meraba duka keluarga dari cerita-cerita warga sekitar yang mengenalnya.
Tragedi yang menghancurkan keluarga Ai ini bermula pada Sabtu (28/3/2026) sore.
Rentetan ledakan keras memecah langit Kelurahan Tanah Mas, Kecamatan Baamang. Kobaran api seketika menelan sebuah kapal penampung minyak dan Tug Boat (TB) Batara VII yang tengah bersandar di fasilitas perawatan PT NDS.
Laporan sementara dari tim penanganan darurat mencatat tiga pekerja menjadi korban dalam insiden nahas ini.
Ai terkonfirmasi meninggal dunia, satu rekannya menderita luka parah di bagian kepala, sementara satu pekerja lain masih lenyap tanpa jejak di lokasi kejadian.
Teka-teki nasib satu pekerja lain yang lenyap menghadirkan babak baru dalam proses pencarian. Penemuan sesosok mayat tanpa identitas di aliran Sungai Mentaya Selasa (31/3) lalu, diduga berkaitan dengan insiden nahas tersebut.
Namun, pihak terkait belum memberikan informasi dan menunggu hasil identifikasi forensik untuk memastikan apakah tubuh yang mengapung itu benar-benar korban dari tragedi di dermaga Tanah Mas.
Sementara itu, Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas III Sampit memastikan penyelidikan pemicu kebakaran masih berjalan.
Dugaan awal yang menyeruak berputar pada dua skenario, hantaman petir atau adanya aktivitas pekerja berisiko tinggi di dekat muatan bahan bakar.
Tim gabungan kepolisian sebelumnya telah menggelar olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) untuk membongkar teka-teki insiden ini.
Sorotan tajam mengarah pada penerapan standar keselamatan kerja di lingkungan berisiko tinggi tersebut.
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kotawaringin Timur langsung menekan tombol evaluasi menyeluruh, menuntut pertanggungjawaban perusahaan serta otoritas pelabuhan.
Ketua DPRD Kotim, Rimbun, mendesak pengetatan pengawasan agar area kerja berisiko tinggi tidak kembali menimbulkan korban jiwa.
Lembaga legislatif menagih transparansi prosedur keselamatan di area docking, terutama saat cuaca ekstrem membekap wilayah kerja yang sarat bahan bakar.
Publik berhak tahu apakah perusahaan menghentikan aktivitas berisiko saat ancaman petir mengintai, serta sejauh mana kelayakan infrastruktur penangkal petir terpasang.
Kejelasan status ketenagakerjaan para korban hingga kini belum dijelaskan secara terbuka oleh pihak terkait.
Kenyataan paling pedih akhirnya kembali ke pangkuan keluarga Ai di Kotabesi. Pusara telah ditutup rapat meski raga sang ayah tak lagi sempurna, sementara aparat di luar sana masih berpacu memburu jawaban atas pemicu ledakan. (ign)