Intinya sih...

• Instagram memperbarui wordmark atau logo berbentuk tulisan sebagai identitas visual platform.
• Pembaruan desain tersebut menuai kritik karena dinilai sulit dibaca dan menyebabkan beberapa karakter huruf tidak langsung dikenali sekilas.
• Kritik juga muncul karena desain baru ini dikaitkan dengan kesalahan visual, seperti huruf yang tidak jelas, yang sering ditemukan pada gambar hasil kecerdasan buatan (AI) generatif.
• Hal ini dinilai ironis sebab desain yang bertujuan modern justru menyerupai kesalahan tipografi AI, meskipun tidak berarti Instagram menggunakan AI untuk logo tersebut.
• Persoalan ini menyoroti bahwa desain visual yang eksperimental dapat mengorbankan kejelasan dan fungsi dasar logo untuk mudah dikenali.

Kanalindependen.id  – Instagram memperbarui tampilan wordmark atau logo berbentuk tulisan yang selama ini menjadi bagian dari identitas visual platform tersebut. Namun, perubahan itu justru memicu kritik karena desain barunya dinilai sulit dibaca.

Sekilas, tulisan Instagram pada wordmark baru bahkan dapat membuat orang salah mengenali beberapa huruf. Kritik terhadap desain tersebut kemudian dikaitkan dengan fenomena yang sering muncul pada gambar buatan kecerdasan buatan (AI).

Kesalahan seperti huruf yang bentuknya tidak jelas, susunan karakter yang terasa janggal, atau tulisan yang hampir benar tetapi sulit dibaca merupakan salah satu ciri yang pernah banyak ditemukan pada gambar hasil AI generatif.

Karena itu, desain baru Instagram dinilai ironis. Logo tersebut dibuat untuk memperbarui identitas visual agar terlihat lebih modern, tetapi sebagian orang justru melihat kemiripannya dengan kesalahan visual yang biasa ditemukan pada konten AI.

Persoalan utamanya bukan karena Instagram disebut menggunakan AI untuk membuat logo tersebut. Kritik lebih mengarah pada hasil akhirnya yang dianggap memiliki karakter visual serupa dengan kesalahan tipografi pada gambar generatif AI.

Perubahan paling terasa terlihat pada bentuk sejumlah huruf dalam kata Instagram. Gaya huruf yang lebih khas membuat beberapa karakter tidak langsung dikenali ketika dibaca sekilas.

Hal itu berbeda dengan wordmark sebelumnya yang menggunakan bentuk tulisan kursif dan relatif mudah dikenali. Meski desain lama juga telah berusia cukup lama, nama Instagram tetap terbaca jelas.

Pembaruan wordmark merupakan bagian dari upaya Instagram menyegarkan identitas visualnya. Platform tersebut mempertahankan sejumlah elemen yang sudah melekat pada mereknya, tetapi memberikan sentuhan baru pada bentuk tulisan.

Namun, desain logo memiliki satu fungsi dasar yang sulit diabaikan, yaitu membuat sebuah nama mudah dikenali. Ketika bentuk huruf justru membuat pembaca harus berhenti untuk memastikan kata yang dilihat, penyegaran visual dapat berubah menjadi persoalan keterbacaan.

Kritik terhadap logo baru Instagram akhirnya memperlihatkan persoalan yang lebih luas dalam desain digital. Tampilan yang semakin eksperimental belum tentu lebih efektif jika mengorbankan kejelasan.

Dalam kasus Instagram, logo baru yang dimaksudkan tampil lebih modern justru membuat sebagian orang bertanya-tanya apakah mereka benar-benar sedang membaca kata “Instagram”.

Di tengah maraknya penggunaan AI generatif, kemunculan desain yang menyerupai kesalahan visual AI juga menjadi ironi tersendiri. Teknologi AI terus berusaha memperbaiki kemampuan menghasilkan teks dan bentuk yang presisi, sementara sebuah identitas merek justru dikritik karena menghasilkan efek visual yang mengingatkan orang pada kesalahan tersebut. (***)