Di malam Jumat, saat pertama kali ia tidur di gedung seorang diri, ia merasakan gangguan makhluk gaib.

Sekitar jam 8 malam, cuaca di luar sedang hujan. Andi duduk di titian tangga area tengah semacam panggung. Aura mencekam mulai ia rasakan hingga membuat bulu kuduknya merinding.

Dalam kegelapan malam, dengan penerangan seadanya, Andi merasakan makhluk gaib mengganggunya dan membuatnya resah.

Prajurit pemberani ini tak gentar. Ia tak lari meski ia mendengar suara ketukan pintu yang digedor-gedor tanpa ada orang satu pun, tanpa ada angin ribut.

“Saya ingat malam itu malam Jumat. Malam pertama saya bermalam di gedung ini. Di luar hujan, lampu penerangan belum terpasang, ruangan masih gelap, saya mendengar suara pintu di sisi barat digedor-gedor, tutup profil tiba-tiba terbang, padahal tidak ada angin ribut,” ujar Andi saat ditemui Selasa (3/3/2026).

Demi amanat tugas dan tanggung jawab, gangguan makhluk tak kasat mata itu ia hadapi seorang diri.

“Jaringan listrik baru saat itu belum terpasang. Material bahan bangunan sudah datang, sehingga perlu diawasi dengan menempati gedung ini,” ujarnya.

Suara pintu digedor-gedor itu berlangsung cukup lama hingga tiga jam. Andi akhirnya mengalihkan fokusnya, memasang headset menutup kedua kupingnya dan memilih menonton hiburan di handphonenya.

“Suara gedor-gedor pintu sampai tiga jam saya mendengarnya. Saya masuk ruangan lantai dua dan memutuskan tidur jam 11 malam,” ujarnya.

Dalam tidurnya, ia bermimpi berbincang dengan seorang sosok wanita cantik berumur sekitar 50an tahun. Perempuan ini berperawakan seperti wanita Dayak.

“Dalam mimpi itu seperti nyata. Saya dihampiri perempuan cantik. Dia bilang ngapain ke sini. Saya jawab, saya ke sini membersihkan gedung yang nantinya akan ditempati,” ucapnya dalam mimpi itu.

Sosok makhluk gaib itu menanyakan kepada Andi apakah ia sudah meminta izin kepada “penghuni wilayah” ini.

“Sudah izin belum? Tanya perempuan itu. Saya jawab izin dengan siapa, kami sudah izin dengan pemda sebagai pemilik bangunan. Yaudah sekalian saya izin sama kamu. Yang penting saya di sini tidak mengganggu, kamu jalani aktivitasmu di duniamu, jangan mengganggu karena niat kami baik hanya ingin menempati,” ucapnya saat berinteraksi dengan makhluk gaib sosok perempuan cantik yang masuk dalam mimpinya.

Menurutnya, sosok makhluk gaib itu memiliki aura positif, ia mempersilakan dan meminta agar membersihkan bangunan dan jangan buang hajat sembarangan.

“Sosok perempuan ini baik, dia tidak mengganggu. Dia minta jaga kebersihan, jangan buang hajat sembarangan, khususnya “di tempatnya” yaitu di ruangan sisi utara bangunan,” ujarnya.

Dari perbincangan itu, Andi diberitahu bahwa kawasan tanah di areal Gedung Expo ini dulunya berdiri rumah sakit dan ada banyak kuburan.

“Dia bilang di sisi utara bangunan gedung ini dulunya rumah sakit dan ada banyak kuburan. Entah sudah dipindahkan atau masih ada, saya tidak dikasih tahu,” ujarnya.

Selain sosok wanita cantik, dalam mimpinya, Andi juga bertemu dengan sosok “Mbak Kuntilanak”. Wajahnya tak terlihat, berpakaian putih dengan rambut panjang.

“Kalau kuntilanak ini auranya negatif, sukanya mengganggu. Tempatnya di sisi barat gedung ini. Kemungkinn yang gedor-gedor pintu dan nerbangin tutup profil tank itu dia,” ujarnya.

Dalam keadaan sadar, ia juga merasa terkadang mengalami gangguan, bayangan melewatinya, perasaan seperti was-was seperti sedang diawasi.

“Deg-degan iya. Merinding iya. Tapi, saya berprinsip saya dan makhluk gaib sama-sama ciptaan Tuhan. Kita hidup berdampingan. Bedanya, kita manusia hidup di dunia nyata, makhluk gaib hidup di dunia lain yang tak kasat mata. Yang terpenting saya tidak mengganggu, maka saya meminta mereka agar tidak mengganggu saya,” ujarnya.

Perbincangan dengan sosok wanita yang masuk dalam mimpinya akhirnya pergi. Andi terbangun dari tidurnya dan melihat waktu menunjukkan jam 12.00 malam.

“Mimpi itu benar-benar seperti nyata. Di akhir mimpi itu, perempuan itu minta agar tidak memangkas pohon akasia di sisi timur bangunan gedung, karena itu jadi tempat bermainnya. Saat terbangun ternyata saya hanya tertidur satu jam,” ujarnya.

Setelah melewati malam pertama menginap di Gedung Expo Sampit, di hari berikutnya hingga sebulan lebih tak lagi menghadapi gangguan ekstrem.

“Diganggu hanya saat malam pertama pertama kali menginap di sini. Mungkin itu hanya perkenalan. Setelah itu tidak ada gangguan, hanya terkadang ada bayangan lewat saja saat saya sedang membersihkan lantai,” ujarnya.

Selama sebulan lebih, Andi menghabiskan waktunya sepanjang hari di Gedung Expo Sampit. Ia “menyulap” bangunan menjadi terlihat bersih. Rumput ilalang yang dulu dibiarkan meninggi kini sudah rata dengan tanah. Lumut hijau kehitaman yang pernah menutup jendela kaca hanya tersisa sebagai noda tipis di sudut-sudut bingkai.

Lantai keramik yang dahulu tergenang air akibat atap bocor dan ruangan berbau lembap sekarang mengkilap, memantulkan cahaya lampu-lampu baru yang menyala hingga ke sudut ruangan.

Atap bocor diperbaiki dengan membeli material atap yang baru dengan kebutuhan 72 lembar. Selembar atap berukuran 1 x 6 meter seharga Rp280 ribu. Sehingga, untuk membeli material atap saja menghabiskan dana Rp20.160.000.

”Ini belum termasuk upah pemasangannya, karena bangunan tinggi dan pengerjaan cukup berisiko, tukang bangunan minta Rp10 juta untuk ongkos pemasangan,” ujarnya.

Sementara, atap yang lama sudah tidak bisa dipakai, bahkan ada yang terbang tersapu angin, karena material kerangkanya hanya dari baja ringan.

“Sekarang atap sudah diperbaiki diganti material atap yang baru dan ada juga beberapa titik plafon yang rusak juga sudah diperbaiki. Sehingga, atap sudah tidak bocor lagi,” ujarnya.

Masalah atap bocor selesai diatasi. Masalah lain masih harus dihadapi, yaitu mengecat ulang dinding interior bangunan yang dipenuhi lumut hijau kehitaman.

“Dinding sudah saya cat dan lantai yang menggenang air serta berlumut juga sudah saya pel sendirian. Tidak cukup sekali pel, saya sampai empat kali ngepel lantai ini sampai bisa benar-benar bersih, karena nantinya area tengah di dalam bangunan ini akan menjadi kantor sekaligus tempat menginap. Kami harus memastikan anggota kami yang beristirahat dalam kondisi bangunan yang bersih dan aman,” katanya.

Selain itu, ia juga menambah 50 unit lampu menggunakan jaringan listrik baru sebagai penerangan di malam hari.

”Jendela yang berlumut juga dibersihkan. Ini sangat memakan waktu, karena hampir setiap sisi bangunan ada jendela besar yang sangat kotor berlumut dan lumayan sulit dibersihkan, sehingga membersihkannya bertahap,” ujarnya.

Ia juga membersihkan rumput ilalang di area sekitar Gedung Expo Sampit, menimbun 30 rit urukan tanah dan membuka akses dua jalan setapak untuk memudahkan kendaraan motor melintas.

Selain itu, ia juga menggali sumur bor sedalam 15 meter untuk kebutuhan air untuk mandi cuci kakus.

Di sisi utara gedung juga dibangun 40 unit toilet dari seng spandek berwarna cokelat tua yang saat ini masih dalam tahap pekerjaan.

Sementara, 14 toilet yang berada di sisi utara dan timur di dalam bangunan gedung yang belum pernah digunakan juga difungsikan dan ruang kecil di bawah tangga juga akan dimanfaatkan sebagai tambahan 4 toilet.

Total ada 18 toilet di dalam Gedung Expo Sampit dan 40 unit toilet tambahan berada di luar gedung.

“Pembangunan WC termasuk pemasangan atap bocor melibatkan lima tukang bangunan. Sampai dengan hari ini pembangunan WC sudah lebih dari 70 persen. Ditargetkan Kamis minggu ini selesai dikerjakan,” katanya.

Ia juga menyediakan 3 profil tank berwarna orens berkapasitas 5.300 liter di sisi utara sebelah toilet.

Tepat di sebelahnya juga ada bangunan genset milik aset Pemkab Kotim yang masih tersimpan dalam ruangan yang tak begitu luas. Dan di sisi kanan bangunan genset juga terdapat satu bangunan kosong yang ditempatkan sebagai gudang senjata dan dapur umum.

“Untuk ruang genset dikunci. Tidak bisa kami manfaatkan. Bangunan luarnya hanya kami cat berwarna hijau. Bangunan kosong sisi kiri genset yang nantinya akan digunakan sebagai ruang persenjataan dan dapur,” ujarnya.

Andi mengungkapkan biaya perbaikan hingga layak huni menghabiskan anggaran lebih dari Rp400 juta.

“Wah kalau ditanya biaya yang dihabiskan untuk perbaikan ini lumayan besar, lebih dari Rp400 juta. Dananya dari Dandim 1015, tugas saya hanya membeli material, membersihkan, memantau pekerjaan tukang, melaporkan progress perbaikan setiap hari. Saya menganggap ini adalah tugas dan tanggung jawab yang harus saya kerjakan sampai tuntas,” ucap pria kelahiran 1991 ini.

Sebagai informasi, pembangunan Gedung Sampit Expo merupakan proyek multiyears (tahun jamak) yang sudah dikerjakan 18 September sampai 10 November 2020 lalu dan selesai dikerjakan tahun 2021. Namun, hingga penghujung tahun 2025, bangunan ini belum juga difungsikan.

Dalam pelaksanaan pembangunan ada kelebihan pembayaran pada sejumlah item pekerjaan, masing-masing sebesar Rp152,6 juta, Rp634,8 juta dan Rp2,48 miliar.

Berdasarkan hasil audit investigasi BPK, perbuatan tersebut mengakibatkan kerugian negara sebesar Rp3,017 miliar serta memberikan keuntungan kepada pihak lain. (hgn/ign)