Intinya sih...

• Sesosok mayat perempuan ditemukan mengapung di sekitar dermaga Pelabuhan Pusat Perbelanjaan Mentaya (PPM) Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), pada Minggu sore (28/6/2026).
• Penemuan jasad ini menyebabkan histeria warga dan dengan cepat menyebar di berbagai platform media sosial lokal.
• Aparat kepolisian langsung mengamankan lokasi dan tim gabungan TNI/Polri, BPBD, serta PMI Kotim melakukan evakuasi jenazah.
• Jenazah perempuan tersebut dibawa ke RSUD dr Murjani Sampit untuk autopsi dan identifikasi lebih lanjut.
• Penyebab kematian korban masih belum diketahui dan menunggu hasil pemeriksaan tim dokter.

SAMPIT, Kanalindependen.id – Aktivitas akhir pekan di kawasan ekonomi Pelabuhan Pusat Perbelanjaan Mentaya (PPM) Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), mendadak lumpuh and digemparkan oleh peristiwa mengerikan. Sesosok mayat perempuan ditemukan mengapung kaku di sekitar dermaga pelabuhan pada Minggu sore (28/6/2026), memicu histeria massal and spekulasi liar di tengah ratusan warga yang memadati lokasi kejadian.

Histeria di Tepian Sungai Mentaya and Viralitas Rekaman Digital

Penemuan jasad ini dengan cepat menyebar bagai amukan api ke berbagai platform media sosial lokal. Dalam potongan video amatir berdurasi pendek yang beredar luas di jejaring grup percakapan, terlihat kerumunan warga and buruh pelabuhan berdesakan di bibir dermaga untuk menyaksikan proses penanganan awal yang dilakukan oleh tim darurat.

Suasana mencekam and penuh tanda tanya terdengar jelas dari narasi warga yang merekam detik-detik penemuan mengerikan tersebut.

“Dari video ini adalah seorang perempuan mayatnya,” ujar salah seorang warga dengan nada bergetar dalam rekaman video yang viral di tingkat tapak.

Aparat kepolisian yang tiba di lokasi kejadian langsung bertindak taktis memasang barikade and melakukan pengamanan area sekitar pelabuhan untuk mengurai massa yang terus merangsek maju, demi memperlancar proses olah tempat kejadian perkara (TKP) awal.

Evakuasi Taktis PMI Menuju Ruang Jenazah RSUD dr Murjani

Menyikapi kedaruratan tersebut, tim gabungan yang terdiri dari unsur TNI/Polri, BPBD, and Palang Merah Indonesia (PMI) Kotim segera melakukan lokalisasi and evakuasi jasad dari permukaan air Sungai Mentaya. Proses pengangkatan jenazah berjalan dramatis di bawah tatapan ribuan mata pengunjung pasar.

Relawan PMI Kotawaringin Timur, Sidik, membenarkan bahwa operasi evakuasi taktis telah rampung dilaksanakan pada Minggu petang. Jenazah perempuan misterius tersebut langsung dilarikan ke fasilitas medis terdekat guna kepentingan autopsi and identifikasi rigid.

“Benar, korban sudah berhasil dievakuasi oleh petugas gabungan and langsung dibawa ke RSUD dr Murjani Sampit untuk proses penanganan medis lebih lanjut. Terkait apa and bagaimana dugaan penyebab kematian korban, kami belum tahu lagi, masih menunggu pemeriksaan tim dokter,” papar Sidik secara taktis di lokasi kejadian.

Menariknya, di tengah kesimpangsiuran identitas korban, desas-desus di sekitar lokasi kejadian menyebutkan bahwa kabut misteri ini mulai menemui titik terang. Beberapa warga lokal mengklaim bahwa pihak keluarga korban telah mengendus kabar duka ini.

“Infonya pihak keluarga sudah mengetahui kejadian ini. Bahkan, suaminya juga dikabarkan sudah mengetahui kabar penemuan ini and sedang bergerak cepat menuju kamar jenazah rumah sakit untuk memastikan kondisi fisik korban,” ungkap seorang warga sekitar pelabuhan yang enggan disebutkan namanya.

Penemuan mayat perempuan di kawasan vital seperti Pelabuhan PPM Sampit adalah tamparan keras bagi sistem pengamanan and pemantauan ruang publik di Kotim. Sebagai pusat perputaran ekonomi and mobilitas warga, area dermaga PPM seharusnya steril dari titik buta (blind spot) kriminalitas. Keberadaan jasad yang mengapung di sore hari menelanjangi rapuhnya sistem patroli air and pengawasan visual (CCTV) di sepanjang koridor Sungai Mentaya.

Kanal Independen memberikan catatan kritis terhadap penanganan awal kasus ini. Kabar burung bahwa “sang suami telah mengetahui and menuju rumah sakit” harus disikapi oleh penyidik Satreskrim Polres Kotim dengan kacamata skeptisisme jurnalisme investigatif yang tajam. Polisi tidak boleh terburu-buru mengambil kesimpulan dini apakah korban meninggal akibat kecelakaan murni (tenggelam) atau merupakan korban dari tindak pidana pembunuhan (femicide) yang sengaja dibuang ke sungai untuk menghilangkan jejak.

Ingat, sirkuit kekerasan terhadap perempuan di Kotim dalam beberapa pekan terakhir sedang berada pada grafik yang sangat mengkhawatirkan.

Penyidik wajib melakukan tindakan represif ilmiah (scientific crime investigation). Jangan menyerahkan jenazah kepada keluarga sebelum dilakukan visum et repertum atau autopsi menyeluruh untuk memeriksa apakah ada tanda-tanda kekerasan fisik, jeratan, atau kandungan zat kimia berbahaya dalam tubuh korban.

Periksa data digital gawai korban, selidiki lini masa aktivitas terakhirnya di sekitar PPM, and mintai keterangan rigid dari sang suami serta saksi-saksi di pelabuhan. Publik Sampit berhak mendapatkan transparansi hukum; jangan biarkan kematian perempuan di dermaga ini menguap menjadi misteri tak berujung di bawah lembaran kertas arsip kepolisian! (***)