SAMPIT, Kanalindependen.id – Fase transisi cuaca dan penyusutan habitat liar di pinggiran urban kembali memicu peningkatan intensitas konflik antara manusia dan satwa liar di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Kali ini, ancaman mematikan mengintai salah satu hunian di Jalan Walter Hugo Nomor 121, Perumahan Bumi Raya III, RT 14/RW 01, Kelurahan Baamang Hulu, Kecamatan Baamang, Sampit. Seekor anak ular berbisa paling mematikan di dunia jenis King Kobra (Ophiophagus hannah) ditemukan menyusup jauh hingga ke dalam area domestik dapur warga pada Kamis (4/6/2026) sore.
Evakuasi Taktis 11 Menit di Bawah Kolong Meja
Petaka ini pertama kali disadari oleh pemilik rumah bernama Komang. Mengetahui reputasi fatal dari reptil yang dihadapinya, ia memilih tidak mengambil risiko gegabah dengan mengeksekusi sendiri satwa tersebut. Komang langsung bergegas menuju Markas Komando (Mako) Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Kotim untuk meminta pertolongan darurat sekitar pukul 15.46 WIB.
Merespons laporan kritis tersebut, Regu III Peleton III Damkarmat langsung memberangkatkan lima personel penyelamat yang dipimpin oleh Plh. Wakil Komandan Regu, Rusdiansyah. Menggunakan unit Mobil Hilux Merah Rescue (KH 8152 FW), tim taktis ini menembus jarak 3,8 kilometer dan tiba di tempat kejadian perkara (TKP) dalam waktu kurang dari 25 menit.
Begitu menginjakkan kaki di lokasi, petugas langsung dipandu menuju area dapur yang menjadi titik perimeter bahaya. Ular tersebut terpantau sedang berada dalam posisi siaga dan bersembunyi di bawah kolong meja dapur, sebuah area sempit yang sangat menyulitkan ruang gerak evakuasi.
“Setibanya di lokasi, petugas langsung diarahkan pemilik rumah menuju ke area dapur. Berdasarkan pengamatan, anak ular King Kobra tersebut bersembunyi di bawah meja dapur,” Komandan Regu III Damkarmat Kotim Supriansyah, Kamis sore.
Eksekusi penangkapan yang dimulai tepat pukul 16.15 WIB itu berlangsung sangat taktis. Bermodalkan tongkat penjepit khusus (snake tongs) standar penyelamatan, petugas hanya membutuhkan waktu 11 menit untuk melumpuhkan agresivitas anak King Kobra tersebut. Tepat pukul 16.26 WIB, operasi dinyatakan selesai tanpa ada korban cedera maupun korban jiwa dari pihak penghuni rumah maupun personel yang bertugas.
Kemunculan anak King Kobra di Perumahan Bumi Raya III Baamang ini membawa alarm bahaya ekologis yang jauh lebih besar ketimbang ukuran fisiknya. Dalam dunia herpetologi, istilah “anak ular” pada spesies King Kobra sering kali memicu salah kaprah di tengah masyarakat yang menganggapnya kurang berbahaya dibanding ular dewasa. Padahal, anak King Kobra yang baru menetas sudah memiliki kelenjar racun (venom) fungsional dengan dosis neurotoksin yang sangat murni dan mematikan. Sifat mereka yang cenderung lebih agresif dan belum mampu mengontrol volume semburan racun membuat gigitan anak kobra justru kerap kali berakibat fatal bagi manusia.
Dari kacamata investigasi lingkungan, penemuan anak ular di dalam area dapur ini mengindikasikan adanya klaster sarang atau tempat penetasan telur (breeding ground) yang lokasinya tidak jauh dari pemukiman warga Baamang Hulu. Sektor Baamang yang terus mengalami ekspansi pembangunan perumahan secara masif secara otomatis memotong jalur jelajah dan membersihkan vegetasi semak yang menjadi habitat alami mangsa utama kobra, yakni ular-ular kecil lainnya dan tikus.
Damkarmat Kotim memang telah sukses menjalankan fungsi penyelamatan taktisnya dalam waktu singkat di rumah Komang. Namun, intervensi pasca-evakuasi tidak boleh berhenti pada sekadar mengamankan satu ekor anak ular. Otoritas lingkungan hidup lokal bersama komunitas pencinta reptil harus mulai memetakan kawasan Baamang sebagai zona merah konflik satwa. Selama edukasi mengenai kebersihan lingkungan pemukiman dan mitigasi dini tidak masif dilakukan kepada warga perumahan, maka meja dapur warga Sampit akan terus menjadi ruang tunggu mematikan bagi predator berbisa tinggi ini. (***)