Secara rinci, SPPG Mentawa Baru Ketapang di Kelurahan Mentawa Baru Hilir melayani 3.430 penerima manfaat yang berasal dari sekolah, pondok pesantren, tenaga pendidik, serta kelompok 3B.
SPPG Mentawa Baru Ketapang di Kelurahan Mentawa Baru Hulu melayani 2.866 penerima manfaat dari kalangan siswa sekolah, tenaga pendidik dan nonkependidikan, serta kelompok ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.
Sementara itu, SPPG Baamang melayani sekitar 2.498 penerima manfaat dari berbagai kelompok sasaran. Sedangkan SPPG Parenggean menjangkau 2.561 penerima manfaat.
”Pelaksanaan program MBG juga melibatkan 177 relawan yang sebagian besar merupakan warga lokal di sekitar wilayah operasional SPPG. Para relawan tugasnya berperan dalam proses pengolahan hingga pendistribusian makanan kepada para penerima manfaat,” katanya.
Selain melibatkan tenaga relawan, program MBG di Kotim juga menggandeng supplier lokal untuk memenuhi kebutuhan bahan pangan. Berbagai bahan makanan seperti ayam, ikan, sayur, buah, telur, tahu, tempe, hingga susu dipasok oleh pelaku usaha lokal.
Tak hanya itu, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) setempat juga dilibatkan dalam penyediaan produk tambahan seperti roti, kue, serta makanan pendamping lainnya.
Umar menilai keterlibatan masyarakat dan pelaku usaha lokal menjadi salah satu kekuatan utama program MBG, karena selain meningkatkan pemenuhan gizi, program ini juga mampu menggerakkan perekonomian masyarakat.
Pemerintah daerah berharap ke depan cakupan layanan program ini dapat terus diperluas sehingga seluruh penerima manfaat di Kabupaten Kotim dapat segera terlayani secara merata.
”Program MBG di Kotim diharapkan tidak hanya memperkuat pemenuhan gizi anak-anak dan kelompok rentan, tetapi juga memberikan dampak positif terhadap ekonomi lokal melalui keterlibatan supplier dan UMKM di daerah,” katanya. (hgn/ign)