Intinya sih...

• Harga sejumlah komoditas pangan di Pasar Tradisional Sampit, khususnya Pasar Al Kamal, mengalami fluktuasi pada Senin (21/9/2026).
• Cabai rawit menjadi komoditas dengan kenaikan paling mencolok, mencapai Rp100 ribu/kg. Pedagang menduga kenaikan ini disebabkan berkurangnya pasokan dari Jawa dan Banjarmasin akibat kekeringan musim kemarau, serta insiden tenggelamnya KM Virgo Transport 8 pada Minggu (13/9/2026) yang sempat mendorong harga hingga Rp200 ribu/kg.
• Kenaikan juga terjadi pada ikan nila segar yang melambung ke Rp63-65 ribu/kg, ayam potong ke Rp37-38 ribu/kg, serta beberapa sayuran seperti tomat (Rp18 ribu/kg), manisa (Rp18 ribu/kg), terong (Rp22-23 ribu/kg), dan timun (Rp18-30 ribu/kg).
• Sementara itu, harga bawang merah justru turun menjadi sekitar Rp35 ribu/kg, dan bawang putih terpantau stabil di kisaran Rp30-35 ribu/kg.
• Dampak kenaikan harga dirasakan oleh pedagang makanan seperti Maryam dari Warung Suramadu, yang terpaksa menaikkan harga menu nila goreng lalapan dari Rp23 ribu menjadi Rp30 ribu sejak lebih dari seminggu lalu.

SAMPIT, kanalindependen.id – Harga sejumlah komoditas pangan di Pasar Tradisional Sampit, kembali mengalami fluktuatif.

Cabai rawit menjadi salah satu komoditas dengan kenaikan paling mencolok karena harganya kini menembus Rp100 ribu per kilogram, sementara ikan nila segar ikut melambung hingga Rp65 ribu per kilogram.

Kenaikan harga cabai rawit disebut pedagang sudah berlangsung sekitar sebulan. Hal ini terjadi karena  berkurangnya pasokan yang masuk ke Sampit, terutama kiriman dari Jawa dan Banjarmasin.

”Harga cabai masih tinggi Rp100 ribu per kilogram, kalau beli banyak bisa saja saya diskon Rp95 ribu per kilogram,” kata Dewi Ayu Putri Kasiyani, Pedagang di Pasar Al Kamal, Senin (21/9/2026).

Dewi menduga berkurangnya pasokan tidak terlepas dari kondisi cuaca selama musim kemarau. Kekeringan membuat media tanam petani kekurangan air sehingga berdampak terhadap produksi dan jumlah cabai yang dapat dipanen.

”Harga cabai sudah sebulanan belum bisa turun, sepertinya karena faktor kekeringan selama musim kemarau, produksi panen berkurang, otomatis pasokan ke daerah-daerah juga berkurang,” ujarnya.

Untuk menjaga ketersediaan barang, Dewi tidak hanya mengandalkan satu daerah pemasok. Cabai yang dijualnya ada yang dari hasil petani di Tanjung, Kalimantan Selatan, kiriman dari Pulau Jawa hingga cabai lokal dari petani Kotabesi.

”Saya jual kadang cabai dari Tanjung, ada juga yang cabai kiriman dari Jawa dan kadang jual juga cabai lokal dari petani Kotabesi, yang penting barang tersedia bisa jualan,” ujarnya.

Tekanan harga bahkan sempat lebih tinggi dibandingkan kondisi saat ini. Dewi menyebut harga cabai rawit sempat mencapai Rp200 ribu per kilogram setelah terjadi insiden tenggelamnya Kapal Motor (KM) Virgo Transport 8 yang melayani rute Surabaya menuju Banjarmasin di perairan Masalembo, Laut Jawa, Minggu (13/9/2026).

”Sejak kejadian kapal tenggelam seminggu yang lalu itu, harga cabai ada yang jual sampai Rp200 ribu per kilogram, kalau saya gak sampai jual segitu, karena pasokan masih ada walau terbatas saya masih jual Rp100 ribu per kilogram, kasihan juga sama pelanggan setia yang sudah biasa beli sama saya,” ujarnya.

Meski cabai rawit masih tinggi, tidak semua komoditas mengalami kenaikan. Harga bawang merah justru turun dan kini berada di kisaran Rp35 ribu per kilogram, dari sebelumnya sekitar Rp38-40 ribu per kilogram.

Harga tersebut relatif sama dengan bawang putih yang masih stabil di kisaran Rp30-35 ribu per kilogram.

”Harga bawang merah Purbolinggo ini sudah lama turunnya, ada sekitar tiga bulan lalu. Ada juga yang jual Rp30 ribu, ukurannya agak kecil-kecil,” ujar Dewi.

Sebaliknya, sejumlah sayuran mulai mengalami kenaikan. Tomat yang biasanya dijual Rp10-15 ribu per kilogram kini mencapai Rp18 ribu per kilogram.

Kenaikan juga terjadi pada manisa yang bergerak dari Rp13-15 ribu menjadi Rp18 ribu per kilogram.

Terong naik dari Rp18-20 ribu menjadi Rp22-23 ribu per kilogram, sedangkan timun yang sebelumnya sekitar Rp10 ribu kini berada di kisaran Rp18-30 ribu per kilogram.

”Tomat sudah naik dua hari lalu, Manisa juga naik dari Rp13-15 ribu jadi Rp18 ribu, terong juga naik dari harga Rp18-20 ribu per kg, jadi Rp22-23 per kilogram dan timun juga naik dari Rp10 ribu jadi Rp18-30 ribu per kilogram,” ujarnya.

Kenaikan harga juga terjadi pada ayam potong. Dari harga normal sekitar Rp33-35 ribu per kilogram, kini ayam dijual pada kisaran Rp37-38 ribu per kilogram.

”Ayam kotor Rp37 ribu, kalau ayam broiler bersih Rp38 ribu per kilogram,” ucap pedagang lain.

Komoditas lain yang mengalami kenaikan cukup terasa adalah ikan nila segar. Harganya yang sebelumnya berada di kisaran Rp45-55 ribu per kilogram, kini terpantau mencapai Rp63-65 ribu per kilogram.

Kenaikan tersebut turut dirasakan pedagang makanan yang menggunakan nila sebagai salah satu bahan utama menu jualannya.

Maryam, pedagang Lalapan Warung Suramadu, mengatakan tingginya harga ikan membuat dirinya harus mengurangi jumlah pembelian.

”Sudah setengah bulan lebih ini, harga nila naiknya kebangetan. Saya sampai gak beli, tapi karena kasihan sama pelanggan yang nyari, saya beli sedikit saja, karena harga ikan segarnya saja sudah naik, terpaksa harga nila goreng lalapan juga saya naikan,” ujar Maryam.

Maryam terpaksa menyesuaikan harga menu nila goreng lalapan yang sebelumnya dijual Rp23 ribu, sudah termasuk nasi. Kini harga jualnya menjadi Rp30 ribu.

”Sudah seminggu lebih ini saya jual Rp30 ribu. Sebelum pesan, saya kasih tahu dulu ke pelanggan, kalau harganya naik, jadi bagi yang mau-mau aja, nyetok juga gak banyak,” tandasnya. (hgn/ign)