✨ Intinya sih...

• Tiga individu orangutan terisolasi di sisa kawasan hutan dan semak belukar yang hangus terbakar akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Bagendang Tengah, Kecamatan Mentaya Hilir Utara, Kotawaringin Timur.
• Informasi keberadaan mereka diperoleh tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Pos Sampit saat observasi, menyusul penemuan seekor anak orangutan terlantar pada Selasa (3/11/2026).
• Kepala BKSDA Resort Sampit Muriansyah pada Rabu (4/11/2026) mengonfirmasi kehancuran habitat di Bagendang Tengah menjadi pemicu satwa liar mendekati pemukiman warga.
• Seekor anak orangutan betina berusia empat tahun sebelumnya ditemukan pada Sabtu (31/10/2026) dan kini telah dievakuasi untuk menjalani rehabilitasi di Suaka Margasatwa (SM) Lamandau.
• BKSDA Pos Sampit merencanakan patroli dan observasi lanjutan, serta mengimbau masyarakat untuk segera melapor jika menemukan orangutan dan tidak mendekati, mengganggu, atau melukai satwa tersebut.
• Artikel ini menyebut BKSDA Kalteng bersama konsorsium penyelamatan satwa didesak untuk segera melakukan operasi penyelamatan (rescue and translocation), sementara Polres dan BPBD Kotim dituntut meningkatkan pemadaman darat.

SAMPIT, Kanalindependen.id  – Ancaman kehancuran ekosistem akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus mendesak populasi satwa liar dilindungi di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Sedikitnya tiga individu orangutan (Pongo pygmaeus) dilaporkan terisolasi dan berusaha bertahan hidup di sisa kawasan hutan serta semak belukar yang hangus terbakar di Desa Bagendang Tengah, Kecamatan Mentaya Hilir Utara, Kotim.

Informasi krusial ini diperoleh tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Pos Sampit saat menggelar observasi menyusul penemuan seekor anak orangutan terlantar pada Selasa (3/11/2026). Laporan warga dan Pemerintah Desa Bagendang Tengah mengonfirmasi keberadaan kawanan primata langka tersebut, terutama di area vegetasi tepian Sungai Sampit.

Kepala BKSDA Resort  Sampit Muriansyah, membeberkan bahwa kehancuran habitat alami di Bagendang Tengah menjadi pemicu utama satwa liar bergerak mendekati pemukiman dan perkebunan warga.

“Dari laporan Kades dan warga yang kami temui di lokasi, dilaporkan masih ada sekitar paling sedikit tiga individu orangutan yang berada di hutan ataupun semak belukar, khususnya di tepi Sungai Sampit. Kami melihat hutan di sana sebagian besar terbakar, mengakibatkan orangutan masuk ke sekitar ladang ataupun kebun milik warga,” ungkap Muriansyah, Rabu (4/11/2026).

Sisa Api Masih Mengepul, Anak Orangutan 4 Tahun Jalani Rehabilitasi di SM Lamandau

Dalam observasi lapangan, tim BKSDA mendapati pemandangan memprihatinkan: hamparan hutan, kebun karet, hingga ladang warga telah gosong dilalap api, dengan beberapa titik gambut masih mengepulkan asap tebal. Kondisi ini memperjelas mengapa seekor anak orangutan betina berusia empat tahun sebelumnya ditemukan terpisah sendirian di tepi jalan pada Sabtu (31/10/2026).

Anak orangutan tersebut kini telah dievakuasi tim gabungan ke Kantor Seksi Konservasi Wilayah (SKW) II Pangkalan Bun. Setelah menjalani pemeriksaan kesehatan (health check), satwa tak berdaya itu disiapkan memasuki tahapan rehabilitasi di kawasan Suaka Margasatwa (SM) Lamandau hingga siap dilepasliarkan kembali ke alam bebas.

Pihak BKSDA Pos Sampit merencanakan patroli dan observasi lanjutan dalam beberapa hari ke depan untuk memastikan titik koordinat serta kondisi fisik tiga individu orangutan yang tersisa.

“Kami mengimbau masyarakat segera melapor jika kembali menemukan keberadaan orangutan di sekitar kebun atau permukiman. Mohon tidak mendekati, mengganggu, apalagi melukai satwa tersebut agar penanganan dapat dilakukan secara aman oleh petugas,” pangkas Muriansyah.

Terisolasinya tiga individu orangutan di sisa kantong hutan terbakar Bagendang Tengah merupakan sinyal darurat krisis ekologi di pesisir Kotim. Mengandalkan pakan alami di lokasi yang hangus hanya akan mempercepat kematian satwa akibat kelaparan, hidrasi buruk, atau konflik fatal dengan manusia.

BKSDA Kalteng bersama konsorsium penyelamatan satwa didesak untuk tidak sebatas melakukan pemantauan pasif, melainkan segera melangsungkan operasi penyelematan (rescue and translocation) terhadap tiga individu tersebut ke area konservasi yang aman dari Karhutla.

Polres Kotim dan BPBD Kotim dituntut terus meningkatkan pemadaman darat di area tepian Sungai Sampit guna mencegah lidah api merembet ke sisa koridor vegetasi terakhir tempat orangutan bertahan hidup. (***)