✨ Intinya sih...

• Kota Sampit mencatat inflasi bulanan (month-to-month) sebesar 0,85 persen pada Oktober 2026, berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS) Kotawaringin Timur tanggal 2 November 2026.
• Daging ayam ras menyumbang andil inflasi bulanan tertinggi sebesar 0,17 persen, disusul ikan nila dengan andil 0,14 persen.
• Kepala BPS Kotawaringin Timur, Eddy Surahman, menjelaskan bahwa inflasi dipicu oleh gejolak harga komoditas pangan volatil akibat fluktuasi pakan dan kelancaran distribusi, serta penyesuaian biaya logistik.
• Secara tahunan (year-on-year), inflasi Kota Sampit pada Oktober 2026 melonjak hingga 4,72 persen, meningkat signifikan dibandingkan periode yang sama pada tahun 2025 (2,97%) dan 2024 (1,10%).
• Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi tahunan (7,78% dengan andil 2,85%), diikuti oleh kelompok transportasi (6,67% dengan andil 0,60%).
• Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Pemkab Kotawaringin Timur didesak untuk menggelar operasi pasar dan menjamin kelancaran arus bongkar muat bahan pangan di Pelabuhan Sampit.

SAMPIT, Kanalindependen.id  – Laju Indeks Harga Konsumen (IHK) di Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), mencatatkan lonjakan tajam. Berdasarkan rilis resmi Badan Pusat Statistik (BPS) Kotim, Kota Sampit mengalami inflasi bulanan (month-to-month) sebesar 0,85 persen pada Oktober 2026. Meroketnya harga daging ayam ras serta komoditas ikan nila menjadi dua pendorong utama yang paling menonjol di pasar.

Berdasarkan Berita Resmi Statistik BPS Kotim Nomor 11/11/6202/Th. XX yang dirilis pada 2 November 2026, nilai IHK Sampit merangkak naik dari angka 112,55 pada September 2026 menjadi 113,51 pada Oktober 2026. Daging ayam ras menyumbangkan andil inflasi bulanan tertinggi sebesar 0,17 persen, disusul pasokan ikan nila dengan andil 0,14 persen. Tekanan kenaikan harga ini diikuti oleh komoditas kacang panjang (0,07 persen), tomat (0,06 persen), sigaret kretek mesin (0,05 persen), kangkung (0,04 persen), dan angkutan laut (0,03 persen). Sebaliknya, komoditas ikan tongkol atau ambu-ambu menjadi penahan laju inflasi dengan memberikan andil deflasi sebesar 0,02 persen.

Kepala BPS Kabupaten Kotawaringin Timur Eddy Surahman, membeberkan bahwa pergerakan harga pada Oktober 2026 dipengaruhi oleh dinamika pasokan pangan di tingkat distributor serta penyesuaian biaya logistik penerbangan dan perkapalan.

“Kenaikan IHK sebesar 0,85 persen pada Oktober ini terutama dipicu oleh gejolak harga komoditas pangan volatil (volatile foods), khususnya daging ayam ras dan ikan budidaya seperti ikan nila akibat fluktuasi pakan dan kelancaran distribusi. Secara keseluruhan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberikan tekanan paling dominan terhadap IHK Sampit,” terang Eddy Surahman, Senin (2/11/2026).

Inflasi Tahunan Tembus 4,72 Persen, Kelompok Pangan dan Transportasi Paling Melonjak

Secara tahunan (year-on-year/y-on-y), inflasi Kota Sampit pada Oktober 2026 melonjak hingga 4,72 persen. Angka ini meroket tajam jika dibandingkan periode yang sama pada tahun 2025 yang tercatat sebesar 2,97 persen, maupun Oktober 2024 yang hanya berada di kisaran 1,10 persen. Sementara itu, tingkat inflasi tahun kalender (year-to-date/y-to-d) hingga Oktober 2026 kini telah mencapai 4,45 persen.

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi tahunan dengan kenaikan 7,78 persen (andil 2,85 persen), disusul kelompok transportasi sebesar 6,67 persen (andil 0,60 persen), serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang mengalami inflasi 5,95 persen (andil 0,39 persen).

Lonjakan inflasi tahunan hingga 4,72 persen merupakan warning keras bagi ketahanan daya beli masyarakat Kota Sampit. Tingginya kontribusi daging ayam dan ikan nila membuktikan bahwa ketergantungan pada pasokan pakan pabrikan serta kendala logistik lokal sangat rentan memicu pemicu inflasi (inflationary pressure).

Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Pemkab Kotim bersama Dinas Perdagangan dan Perindustrian didesak untuk segera menggelar operasi pasar terukur untuk komoditas daging ayam ras, telur, dan ikan air tawar guna mengintervensi spekulasi harga pedagang besar. Selain itu, Pemkab Kotim dituntut menjamin kelancaran arus bongkar muat bahan pangan di Pelabuhan Sampit serta memangkas simpul rantai pasok (supply chain) agar kenaikan tarif angkutan tidak dibebankan sepenuhnya kepada konsumen akhir. (***)