✨ Intinya sih...

• Helikopter penyiram air (water bombing) TNI Angkatan Darat jenis MI-17V5A jatuh di perairan Sungai Tulis, Seruyan, Kalimantan Tengah, saat misi penanggulangan karhutla di Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP).
• Insiden yang terjadi sekitar pukul 11.00 WIB ini melibatkan delapan personel TNI AD.
• Hingga Rabu malam (4/11/2026), dua personel dipastikan meninggal dunia, dan lima personel lainnya berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat serta kini dirawat di RSUD Kuala Pembuang.
• Satu personel TNI AD masih dalam pencarian intensif oleh tim SAR gabungan, diduga kuat masih terjebak di dalam bangkai helikopter yang tenggelam.
• Pangdam XXII/Tambun Bungai Mayjen TNI Zainul Arifin menyatakan tim penyelam terus bekerja di lokasi kejadian.
• Mabes TNI dan Kemenhub dituntut melangsungkan investigasi menyeluruh untuk mengungkap penyebab kecelakaan ini.

SERUYAN, Kanalindependen.id  – Operasi pencarian dan pertolongan (Search and Rescue) pasca-musibah jatuhnya helikopter penyiram air (water bombing) milik TNI Angkatan Darat jenis MI-17V5A di perairan Sungai Tulis, Desa Sungai Perlu, Kecamatan Seruyan Hilir, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, terus berlanjut hingga Rabu malam (4/11/2026).

Panglima Kodam XXII/Tambun Bungai, Mayjen TNI Zainul Arifin, menyampaikan pembaruan resmi terkait kondisi delapan personel yang berada di dalam helikopter nahas tersebut.

Hingga Rabu malam, dua orang personel dipastikan meninggal dunia, sementara lima orang korban selamat kini tengah mendapatkan perawatan medis intensif di RSUD Kuala Pembuang. Adapun satu personel lainnya masih dalam pencarian intensif oleh tim SAR gabungan.

Mayjen TNI Zainul Arifin membeberkan bahwa satu prajurit yang belum ditemukan tersebut diduga kuat masih terjebak di dalam kabin bangkai helikopter yang tenggelam di perairan Sungai Tulis.

“Kemungkinan masih di dalam pesawat, nah ini masih pencarian, mudah-mudahan bisa kita keluarkan dari pesawat. Malam ini juga masih ada tim penyelam kita yang bekerja di lokasi kejadian, mudah-mudahan bisa segera kita evakuasi,” tegas Mayjen TNI Zainul Arifin, Rabu malam (4/11/2026).

Misi Pemadaman Karhutla TNTP, Helikopter MI-17V5A Jatuh Saat Operasi Water Bombing

Berdasarkan keterangan resmi Kodam XXII/Tambun Bungai, helikopter MI-17V5A tersebut mengalami insiden kecelakaan sekitar pukul 11.00 WIB ketika sedang mengemban tugas kemanusiaan melakukan pengeboman air (water bombing) untuk menanggulangi karhutla di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP).

“Jadi ini ada insiden ya, pesawat dari penerbangan MI-17 kita, kebetulan dia bertugas water bombing di daerah seputar Taman Nasional Tanjung Puting,” ungkap Pangdam.

Untuk mempercepat evakuasi korban terakhir, TNI mengerahkan tim penyelam khusus yang dilengkapi peralatan penerangan dan penyelamatan bawah air guna menyisir badan helikopter di kedalaman perairan Sungai Tulis.

Sementara itu, lima prajurit yang berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat terus dipantau tim dokter RSUD Kuala Pembuang guna penanganan luka-luka serta penanganan dampak trauma (trauma healing).

Gugurnya dua prajurit TNI AD saat menjalankan misi water bombing di Seruyan merupakan tragedi besar dalam penanggulangan karhutla Kalteng 2026. Risiko penerbangan water bombing menggunakan helikopter bertonase besar seperti MI-17V5A di atas vegetasi rapat dan perairan dangkal menuntut tingkat kehati-hatian serta kesiapan armada yang ekstra ketat.

TNI AD bersama Basarnas dan Puslabfor didesak segera mengerahkan alat berat crane floating untuk mengangkat fuselage (badan) helikopter MI-17V5A dari dasar Sungai Tulis guna memastikan evakuasi personel terakhir serta mengamankan kotak hitam (black box/flight data recorder).

Mabes TNI dan Kemenhub dituntut melangsungkan investigasi menyeluruh untuk mengungkap apakah kecelakaan dipicu oleh kegagalan mekanikal (engine failure), turbulensi angin panas (microburst), atau gangguan visibilitas akibat kepungan asap karhutla saat water scooping. (***)