Intinya sih...

• Kebakaran melanda tiga unit bangunan semi permanen di Perumahan Panca Setia, Jalan Kuningan, Sampit, pada Sabtu siang (4/7/2026).
• Insiden tersebut diduga dipicu oleh kelalaian penggunaan tungku kayu bakar tradisional di area dapur.
• Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Kotim menerima laporan pukul 14.20 WIB, berhasil melokalisir api pada 14.48 WIB, dan menyatakan lokasi aman pukul 15.00 WIB.
• Musibah ini menimpa tiga kepala keluarga dan menyebabkan kerugian materiil ditaksir mencapai Rp 750 juta.
• Tidak ada korban jiwa maupun cedera yang dilaporkan dalam kebakaran ini, dengan operasi pemadaman melibatkan sinergi berbagai instansi dan relawan.

SAMPIT, Kanalindependen.id  – Awan hitam duka menyelimuti kawasan Perumahan Panca Setia, Jalan Kuningan, Kelurahan Ketapang, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, pada Sabtu siang (4/7/2026). Tiga unit bangunan semi permanen milik warga habis dilalap si jago merah dalam insiden kebakaran yang diduga dipicu oleh kelalaian penggunaan tungku kayu bakar tradisional di area dapur.

Respon Cepat Damkarmat di Bawah Komando Regu III

Laporan darurat pertama kali masuk ke Markas Komando Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Kotim pada pukul 14.20 WIB, yang dilayangkan oleh warga bernama Abdai Rathomi. Tim piket Regu III Damkarmat Kotim di bawah pimpinan Supriansyah langsung meluncur ke lokasi kejadian hanya berselang dua menit setelah laporan diterima dan tiba di titik koordinat pada pukul 14.31 WIB.

Kepala Seksi Sarana, Prasarana, Informasi, dan Pengolahan Data Damkarmat Kotim, Hermest, yang memimpin evaluasi taktis di lapangan, melaporkan bahwa api berhasil dilokalisir pada pukul 14.48 WIB. Operasi kemudian berlanjut ke tahap pendinginan (cooling down) dan pemeriksaan menyeluruh (overhaul) untuk memastikan tidak ada lagi titik api tersembunyi. Status “hijau” atau aman resmi dinyatakan pada pukul 15.00 WIB.

Dampak Kerugian dan Sinergi Penyelamatan

Musibah ini menimpa tiga kepala keluarga dengan rincian bangunan sebagai berikut: Sukandar (55 tahun): Bangunan 15×10 m², dihuni 5 jiwa. Andarwati (50 tahun): Bangunan 15×10 m², dihuni 2 jiwa. Sumini (56 tahun): Bangunan 12×10 m², dihuni 7 jiwa.

Beruntung, insiden ini dinyatakan negatif korban jiwa, tidak ada cedera ringan maupun luka berat yang dilaporkan. Namun, kerugian materiil akibat hangusnya tiga bangunan tersebut ditaksir mencapai Rp 750 juta. Operasi ini melibatkan sinergi lintas instansi, mulai dari Koramil Ketapang, Polsek Ketapang, PMI Kotim, hingga berbagai elemen relawan (Redkar) dan tim medis 119 Kabupaten Kotim.

Kebakaran di Perumahan Panca Setia ini adalah pengingat keras bahwa musibah bisa datang dari hal paling domestik: tungku kayu bakar. Meski terlihat sederhana, penggunaan tungku kayu tradisional di lingkungan perumahan semi permanen adalah bom waktu yang siap meledak kapan saja. Cuaca cerah yang membuat dinding kayu menjadi sangat kering, ditambah dengan sisa bara api yang tidak dipadamkan sempurna, menciptakan kombinasi maut yang melenyapkan harta benda warga dalam hitungan menit.

Kanal Independen mempertanyakan, apakah penggunaan tungku kayu ini didorong oleh faktor ekonomi akibat tingginya harga gas elpiji atau sekadar kebiasaan lama? Apapun alasannya, pemerintah daerah melalui dinas terkait harus melakukan evaluasi menyeluruh. Sosialisasi mitigasi kebakaran tidak cukup hanya melalui brosur, tapi harus menyentuh akar permasalahan.

Selain itu, apresiasi setinggi-tingginya patut diberikan kepada Damkarmat Kotim dan seluruh relawan yang bekerja ekstra cepat. Namun, ketergantungan pada relawan dan peralatan yang terbatas tetap menjadi catatan. Pembangunan infrastruktur air darurat di setiap kawasan perumahan padat penduduk harus menjadi prioritas agar petugas tidak hanya mengandalkan armada tangki yang terbatas jika akses jalan terhambat. Untuk para korban, semoga ketabahan menyertai, dan bagi warga lain, jadikan ini pelajaran mutlak: padamkan tungku kayu hingga ke abu terkecil sebelum meninggalkan dapur, karena api tidak pernah mengenal ampun.(***)