• Kadar Usman, veteran TNI AD berusia 83 tahun, menceritakan pengalamannya bertugas sejak 1964, termasuk penugasan di Kalimantan Barat menghadapi Pasukan Rakyat Kalimantan Utara (Paraku) saat konfrontasi Indonesia-Malaysia (1966) dan di Timor Timur (1977-1978).
• Kadar pensiun pada 1991 sebagai Sersan Mayor di Kodim 1015 Sampit dan saat ini menerima pensiun bulanan Rp2,8 juta yang dinilainya belum cukup.
• Veteran Achmad Chudori, berusia 85 tahun, juga berbagi pengalamannya selama sekitar 40 tahun bertugas di berbagai wilayah, termasuk Sampit, Kuala Pembuang, Pangkalan Bun, dan Timor Timur.
• Kedua veteran berpesan agar generasi sekarang mensyukuri kemerdekaan dan menghadapi bentuk perjuangan baru, yaitu menjaga negara dari "musuh dalam selimut" seperti korupsi.
SAMPIT, kanalindependen.id – Puluhan tahun berlalu, Kadar meninggalkan masa mudanya untuk menjadi prajurit dan menghadapi medan tugas di tengah situasi konfrontasi Indonesia-Malaysia.
Kini, setelah pensiun dan memasuki usia senja, ia menyimpan senjatanya dan menikmati masa tua.
Pengalaman menjadi prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Darat ia kisahkan secara singkat usai berakhirnya Upacara Detik-detik Proklamasi Kemerdekaan RI Ke-81 Tahun di Stadion 29 November, Senin (17/8/2026).
Dalam suasana riuh, para hadirin yang lalu lalang pulang menuruni tribun, Kanal Independen memilih mendekati tiga veteran yang masih bertahan duduk di tribun.
Kadar salah satu veteran yang diajak berbincang mengulas singkat pengalaman saat bertugas saat situasi konfrontasi dengan Malaysia pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.
Pria tua berusia 83 tahun itu mengisahkan mulai menjadi prajurit saat berusia 23 tahun sekitar tahun 1964.
Dua tahun setelah menjadi prajurit, Kadar mendapat penugasan ke Kalimantan Barat. Ia dikirim menjalankan tugas menghadapi Paraku (Pasukan Rakyat Kalimantan Utara).
”Waktu itu Indonesia kontra dengan Malaysia,” kata Kadar Usman pria kelahiran Jawa Timur, 8 April 1943.

Penugasan tersebut menjadi awal dari perjalanan panjangnya di dunia militer. Setelah itu, ia menjalani berbagai tugas di sejumlah wilayah, termasuk Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat.
Selama bertugas, Kadar merasakan langsung beratnya menjadi prajurit. Bukan hanya medan yang harus dihadapi, tetapi juga risiko kehilangan rekan seperjuangan.
Ia mengenang banyak prajurit yang menjadi korban dalam berbagai penugasan.
Salah satu periode yang masih diingatnya adalah penugasan ke Timor Timur pada 1977-1978. Kadar menyebut banyak anak muda yang menjadi korban dalam penugasan tersebut.
Pengalaman itu menjadi bagian yang tidak pernah benar-benar hilang dari ingatannya.
Setelah sekitar tiga dekade menjalani pengabdian, Kadar pensiun pada 1991. Jabatan terakhirnya adalah Sersan Mayor di Kodim 1015 Sampit.
Namun, berakhirnya masa dinas tidak otomatis membuat kehidupan setelah pensiun menjadi mudah. Kadar kini menerima pensiun sekitar Rp2,8 juta per bulan.
Menurutnya, jumlah tersebut belum cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Rp2.800.000. Ini tidak cukup,” katanya.
Kondisi saat awal pensiun bahkan jauh lebih berat. Kadar menyebut ketika pertama kali pensiun, uang yang diterimanya hanya sekitar Rp85.100.
Meski mengakui masih banyak hal yang ingin disampaikan kepada pemerintah, Kadar memilih tidak merinci seluruh persoalan tersebut. Menurutnya, menyampaikan berbagai kekurangan yang dirasakan masyarakat membutuhkan waktu.
Ia berharap pemerintah tetap memperhatikan kondisi masyarakat, termasuk para veteran yang telah menghabiskan puluhan tahun hidupnya untuk menjalankan tugas negara.
Kadar juga membawa ingatan tentang masa kecilnya ketika Indonesia masih berada dalam situasi sulit. Saat ia masih berusia sekitar lima tahun, ia sempat mengalami kehidupan pada masa di mana Indonesia masih dijajah Jepang.
Menurutnya, penderitaan masyarakat saat itu sangat berbeda dibandingkan kondisi sekarang.
”Penderitaan rakyat pribumi dulu dibandingkan sekarang sangat jauh berbeda,” ujarnya.
Karena itu, Kadar menilai generasi sekarang patut mensyukuri kemerdekaan. Kondisi Indonesia saat ini jauh lebih baik dibandingkan masa yang pernah ia alami ketika masih kecil.
Kadar menyebut meski Indonesia sudah dinyatakan merdeka selama 81 tahun. Namun, perjuangan bukan berarti telah selesai.
Menurut veteran yang kini tinggal di Baamang Tengah, Sampit, musuh bangsa Indonesia saat ini tidak lagi selalu datang dari luar negeri. Ada persoalan di dalam negeri yang justru dapat merusak negara secara perlahan.
Kadar menyebutnya sebagai “musuh dalam selimut.”
”Penjajah Belanda mudah diketahui, tapi ada musuh dalam negeri yang lebih berbahaya yaitu korupsi,” tegas Kadar yang menyudahi perbincangan dan tak ingin melanjutkan.
Bagi Kadar, itulah bentuk perjuangan yang harus dihadapi generasi sekarang. Jika dahulu prajurit berhadapan dengan penjajah menggunakan senjata, saat ini negara harus dijaga dari praktik yang merusak kehidupan masyarakat dan pemerintahan dari dalam.
Achmad Chudori, 40 Tahun Jalani Penugasan
Selain Kadar, adapula Achmad Chudori, veteran yang lama menetap dan menghabiskan usia senjanya di Kota Sampit.
Ia mengaku menghabiskan sekitar 40 tahun sebagai prajurit TNI. Selama masa tugas tersebut, Chudori berpindah-pindah tempat penugasan.
Sampit menjadi salah satu daerah tempatnya menjalankan tugas. Setelah itu, ia pernah ditempatkan di Kuala Pembuang dan Pangkalan Bun hingga akhirnya menjalani penugasan di Timor Timur.
Ketika ditanya pengalaman yang paling membekas selama bertugas, Chudori mengingat salah satu penugasannya di Timor Timur.
Saat itu, ia bersama pasukan hendak bergerak menuju sebuah lokasi. Medan yang harus dilewati tidak mudah karena dipenuhi batu-batu besar.
”Medannya berbatu-batu besar dan cukup berat,” kenangnya.
Chudori mengaku sebagian detail masa pengabdiannya sudah tidak lagi diingat secara utuh. Maklum, sebagian besar pengalaman tersebut telah berlalu puluhan tahun dan karena faktor usia ia sudah menghadapi fase pikun.
Ketika ditanya mengenai usia saat pertama kali masuk tentara, ia memperkirakan sekitar 13 tahun.
”Mungkin sekitar umur 13 tahun. Saya sudah tidak ingat persis,” kata pria kelahiran Sokaraja Kulon pada 7 Agustus 1941.
Meski tidak lagi mampu mengingat seluruh detail perjalanan militernya, Chudori tetap membawa jejak panjang pengabdian tersebut hingga menginjak usianya yang ke-85 tahun.
Sekitar empat dekade hidupnya dihabiskan sebagai prajurit. Penugasan dari Sampit, Kuala Pembuang dan Pangkalan Bun hingga Timor Timur menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.
Kini, Kadar dan Chudori sama-sama telah meninggalkan kehidupan militer. Yang tersisa adalah pengalaman panjang, ingatan yang perlahan terkikis karena faktor usia, pengalaman tentang menghadapi medan tugas dan cerita tentang generasi yang pernah menjalani masa muda dengan risiko besar demi menjalankan tugas negara.
Bagi mereka, perjuangan memang telah berubah bentuk.
Dulu, perjuangan dilakukan dengan menghadapi konflik dan ancaman bersenjata. Sekarang, perjuangan berada pada bagaimana kemerdekaan dijaga agar tidak dirusak dari dalam.
Pesan itu menjadi penting karena datang dari dua orang yang telah menghabiskan puluhan tahun hidupnya sebagai prajurit. Mereka telah melewati masa tugasnya. Tetapi bagi mereka para veteran, menjaga Indonesia tidak mengenal kata selesai. (hgn)